Beberapa bulan yang lalu saya menonton Film dengan judul The Persuit of happyness yang diperankan oleh Will Smith, film ini adalah sebuah karya yang saya pikir luar biasa bagi orang-orang yang hidupnya tidak terlalu baik dalam sisi keuangan dan rumah tangga.
Begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari film ini dan saya berharap semua sahabat dapat melihat dan menyaksikan film tersebut. Didalam film tersebut dikisahkan sebuah rumah tangga yang memang sedang mengalami sebuah kesulitan yang teramat sangat, sang suami hanya sebagai penjual alat pendeteksi penyakit dan si istri bekerja sebagai seorang karyawan disalah satu binatu atau tempat pencucian kain.
Pada awalnya keluarga ini begitu bahagia, hidup mereka penuh dengan senyuman sampai akhirnya anak pertama mereka lahir. Sang suami dengan keyakinan yang tinggi mempertaruhkan semua uangnya dan membeli alat pendeteksi penyakit ini dari sebuah perusahaan untuk kemudian ia jajakan disetiap rumah sakit dan praktek dokter. Beberapa tahun memang alat ini menjadi sesuatu yang sangat penting sehingga banyak pesanan dan keuntungan yang ia dapatkan dari hasil penjualan barang tersebut. Namun setelah tahun-tahun berikutnya alat ini merupakan barang yang sudah tidak lagi digunakan karena masih bersifat manual, kemajuan tekhnologi membuat alat ini menjadi kuno.
Anak mereka sudah semakin besar, kebutuhan mulai bertambah dan alat yang akan dijual sudah mulai tidak diminati banyak orang. Pertengkaran demi pertengkaran dirumah tangga mulai terjadi karena banyaknya kebutuhan hidup yang tidak bisa diselesaikan, sang istri mulai tidak tahan dengan banyaknya tagihan yang datang, biaya telpon, sewa rumah, asuransi, biaya sekolah anak dan masih banyak tagihan lainnya. Sampai pada suatu puncak pertengkaran sang istri meninggalkan sang suami dan anak laki-lakinya yang baru berusia 5 tahun. Sungguh suatu yang memilukan hidup mereka. Sang suami berusaha untuk meyakinkan sang istri dengan alasan sang anak masih membutuhkan ibu dan selalu bertanya tentang ibunya, namun hati wanita itu tetap tidak bergeming karena tidak sanggup menahan kemiskinan yang mereka alami.
Akhirnya sang suami dan sianak diusir dari apartemennya karena tidak sanggup membayar, dengan sabar dan tabah suami menyakinkan anaknya bahwa mereka tidak lagi membutuhkan tempat tinggal dan yang suami butuhkan adalah bagaimana sianak selalu menyayangi dan tetap bersamanya. Motivasi terbesar sang ayah adalah anaknya, mereka tidur dimana saja pada waktu malam, distasiun kereta api, emperan toko sampai di toilet, sang anak selalu bertanya kenapa kita tidak tidur dirumah? namun dengan tegar sang ayah selalu menjawab dengan bijak sana.
Singkat cerita sang ayah terus berusaha dan satu ketika melihat sebuah mobil mewah yang parkir tepat dihadapannya, sang pemilik mobil keluar dengan wajah yang begitu bahagia, sang ayah lantas bertanya “ bagaimana anda mendapatkan mobil mewah ini? ” dan dengan ringan pemilik mobil menunjuk sebuah gedung. Gedung tersebut adalah sebuah perusahaan bursa effek. Mimpi sang ayah untuk menjadi orang kayapun tergambar, dengan semangat yang tinggi dan motivasi untuk memberikan kebahagiaan kepada sang anak yang sudah cukup menderita, membuat sang ayah mencoba untuk belajar dan mendapatkan pekerjaan di gedung tersebut. Akhirnya mimpi itupun menjadi kenyataan, diakhir ceritanya… ternyata film ini adalah sebuah kisah nyata dari seorang bankir yang saat ini sangat terkenal di Dunia “ Chris Gardner ”.
Dari cerita diatas jelas bagi kita bahwa ternyata jangan pernah takut bermimpi untuk sesuatu yang ingin kita capai, yakinlah!!! dan apabila kita yakin serta mau bersungguh-sungguh untuk mencapai mimpi itu kita pasti bisa!. Buatlah sebuah motivasi dalam diri untuk mencapainya agar kita selalu bersemangat dalam mengejar semua yang kita inginkan, karena tanpa motivasi, kita tidak akan bergairah untuk mencapainya. Jangan pernah pedulikan bagaimana dan siapa kita saat ini, tapi buatlah keyakinan bahwa suatu saat nanti kita adalah orang yang sukses. Dan satu hal yang patut kita teladani dari cerita diatas JANGAN PERNAH MENYERAH UNTUK KEHIDUPAN KITA YANG SEKALI INI, sesulit apapun hidup kita hari ini.
Minggu, 23 Mei 2010
Jumat, 07 Mei 2010
Pengertian Inflasi
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat atau adanya ketidak lancaran distribusi barang.[1] Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.
Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan atau desakan biaya produksi.
Inflasi tarikan permintaan (Ingg: demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment.
Inflasi desakan biaya (Ingg: cost push inflation) terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik. Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal,yaitu
kenaikan harga,misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji,misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.
dan Factor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi adalah sebagai berikut:[rujukan?]
a. Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa
b. Tuntutan kenaikan upah dari pekerja.
c. Kenaikan harga barang impor
d. Penambahan penawaran uang dengan cara mencetak uang baru
e. Kekacauan politik dan ekonomi seperti yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1998. akibatnya angka inflasi mencapai 70%.
Penggolongan
Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.
Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi).
Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :
Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)
Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)
Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)
Mengukur inflasi
Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya:
Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.
Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI).
Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.
Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu.
Indeks harga barang-barang modal
Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.
Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
Bagi orang yang meminjam uang kepada bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
Peran bank sentral
Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen -- salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian -- akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.
Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.
Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan atau desakan biaya produksi.
Inflasi tarikan permintaan (Ingg: demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment.
Inflasi desakan biaya (Ingg: cost push inflation) terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik. Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal,yaitu
kenaikan harga,misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji,misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.
dan Factor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi adalah sebagai berikut:[rujukan?]
a. Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa
b. Tuntutan kenaikan upah dari pekerja.
c. Kenaikan harga barang impor
d. Penambahan penawaran uang dengan cara mencetak uang baru
e. Kekacauan politik dan ekonomi seperti yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1998. akibatnya angka inflasi mencapai 70%.
Penggolongan
Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.
Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi).
Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :
Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)
Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)
Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)
Mengukur inflasi
Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya:
Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.
Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI).
Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.
Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu.
Indeks harga barang-barang modal
Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.
Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
Bagi orang yang meminjam uang kepada bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
Peran bank sentral
Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen -- salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian -- akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.
Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.
LAPORAN ARUS KAS
Uang tunai atau cash merupakan saldo sisa dari arus kas masuk dikurangi arus kas keluar yang berasal dari periode-periode lalu. Arus kas bersih (net cash flow) mengacu pada arus kas masuk dikurangi arus kas keluar pada periode berjalan. Arus kas berbeda dengan ukuran kinerja akrual. Ukuran arus kas mengakui arus masuk saat kas diterima walaupun belum dihasilkan, dan mengakui arus keluar saat kas dibayarkan walaupun beban belum terjadi. Laporan arus kas melaporkan ukuran arus kas untuk tiga aktivitas utama dalam bisnis yaitu operasi, investasi, dan pendanaan.
Secara umum, informasi arus kas membantu untuk menilai kemampuan peusahaan dalam memenuhi kewajibannya, membayar dividen, meningkatkan kapasitas, dan mendapatkan pendanaan. Informasi arus kas juga membantu dalam menilai kualitas laba dan ketergantungan laba pada estimasi dan asumsi tentang arus kas di masa depan. Tujuan laporan arus aks adalah menyediakan informasi arus kas masuk dan arus kas keluar untuk satu periode.
Relevansi Kas
Kas merupakan aktiva yang paling liquid serta menawarkan likuiditas dan fleksibilitas bagi perusahaan. Kas merupakan awal sekaligus akhir siklus operasi perusahaan. Aktivitas operasi perusahaan melibatkan konversi kas menjadi berbagai aktiva yang digunakan untuk menghasilkan piutang dari penjualan kredit.
Kas merupakan ukuran akhir profitabilitas dimana kaslah yang digunakan untuk membayar utang, mengganti peralatan, memperluas fasilitas, dan membayar dividen. Dalam analisis arus kas akan membantu dalam menilai likuiditas, solvabilitas, dan fleksibilitas keuangan. Liquiditas merupakan kedekatan aktiva dan kewajiban pada kas. Solvabilitas atau solvensi merupakan kemampuan untuk membayar kewajiban saat jatuh tempo. Fleksibilitas keuangan adalah kemampuan untuk bereaksi dan menyesuaikan diri terhadap kesempatan dan kesulitan. Laporan cash flow berguna dan penting bagi analisis dan menyediakan informasi untuk menjawab pertanyaaan pengguna laporan seperti :
• Berapa banyak kas yang dihasilkan dari atau digunakan untuk operasi ?
• Pengeluaran apakah yang dibayar dengan kas dari operasi ?
• Bagaimana dividen dibayar saat perusahaan mengalami kerugian operasi ?
• Berasal dari manakah kas untuk pembayaran utang ?
• Berasal dari manakah kas untuk pembayaran saham preferen ?
• Bagaimana kenaikan investasi didanai ?
• Berasal dari manakah kas untuk pembelian aktiva tetap yang baru ?
• Mengapa kas lebih rendah saat laba meningkat ?
• Bagaiman penggunaan kas yang berasal dari pendanaan baru ?
Pelaporan Berdasarkan Aktivitas
Operating Activities merupakan aktivitas perusahaan yang terkait dengan laba. Selain pendapatan dan beban yang disajikan dalam laporan laba rugi, aktivitas operasi juga meliputi arus kas masuk dan arus kas keluar bersih yang berasal dari aktivitas operasi terkait, seperti pemberian kredit kepada pelanggan, investasi dalam persediaan, dan perolehan kredit dari pemasok. Aktivitas operasi terkait dengan pos-pos laporan laba rugi dan dengan pos-pos operasi neraca.
Investing Activities merupakan cara untuk memperoleh dan menghentikan aktivitas nonkas. Aktivitas ini meliputi aktiva yang diharapkan untuk menghasilkan pendapatan bagi perusahaan. Aktivitas ini juga meliputi pembelian pinjaman dan penagihan pokok pinjaman.
Financing Activities merupakan cara untuk mendistribusikan, menarik, dan mendapatkan dana untuk mendukung aktivitas bisnis. Aktivitas ini meliputi perolehan pinjaman dari kreditor dan pembayaran pokok pinjaman. Aktivitas ini juga meliputi kontribusi dan penarikan oleh pemilik serta pengembalian atas investasi (dividen).
Menyusun Laporan Arus Kas
Terdapat dua metode untuk pelaporan arus kas dari operasi yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Dalam Metode tidak langsung (indirect method), laba bersih disesuaikan dengan pos penghasilan (beban) nonkas dengan akrual., untuk menghasilkan arus kas dari operasi. Keunggulan metode ini adalah adanya rekonsiliasi perbedaan antara laba bersih dengan arus kas operasi. Rekonsiliasi ini dapat membantu pengguna laporan untuk memprediksi arus kas melalui prediksi laba yang kemudian disesuaikan untuk jarak antara laba besih dengan arus kas – akual nonkas. Metode langsung (direct method) disediakan setelah itu sebagai perbandingan. Metode ini menyesuaikan setiap pos laporan laba rugi untuk akrual terkait, sehingga menghasilkan format yang lebih baik untuk menilai jumlah arus kas masuk (keluar) operasi. Kedua metode tersebut menggunakan format yang sama untuk menghitung kas bersih dari aktivitas investasi dan pendanaan. Yang berbeda hanyalah penyusunan arus kas bersih dari aktivitas operasi.
A. Mempersiapkan Laporan Arus Kas
Laporan arus kas merupakan campuran antara laporan laba rugi dengan neraca. Laba bersih mula-mula disesuaikan untuk penghasilan dan beban nonkas untuk menghasilkan laba kas. Laba kas ini kemudian disesuaikan untuk kas yang dihasilkan dan digunakan oleh transaksi neraca untuk menghasilkan arus kas dari aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan.
Tiik awal laporan arus kas adalah laba bersih yang mula-mula disesuaikan untuk beban penyusutan dan amortisasi nonkas. Proses penyusutan kemudian mengalokasikan biaya perolehan selama masa manfaatnya unuk menandingkan beban terhadap pendapatan yang dihasilkan oleh aktiva yang bersangkutan. Karena laporan arus kas berfokus pada arus kas, beban nonkas yang diakui dalam perhitungan laba besih harus dihilangkan, yaitu dengan menambahkan kembali beban penyusutan dan amortisasi. Penambahan beban penyusutan dan amotisasi tersebut tidak meningkatkan arus kas operasi melainkan hanya menghapuskan beban yang dikurangkan dalam perhitungan laba bersih. Cara yang sama juga digunakan unuk menyesuaikan laba bersih terhadap keuntungan (kerugian) penjualan aktiva. Tujuan penyesuaian ini bukanlah untuk mengeleminasi keuntungan (kerugian) secara keseluruhan, melainkan memindahkannya dari bagian operasi laporan arus kas. Arus kas masuk dari penjualan aktiva disajikan dalam arus kas bersih dari aktivitas investasi. Penyesuaian terakhir adalah analisis kas yang dihasilkan oleh perubahan dalam aktiva lancar dan kewajiban lancar.
Penyesuaian untuk perubahan pos neraca dapat diringkas sebagai berikut :
Kenaikan Penurunan
Aktiva (Arus keluar) Arus masuk
Kewajiban Arus Masuk (Arus keluar)
Setelah laba bersih disesuaikan untuk beban penyusutan dan amortisasi serta keuntungan (kerugian) penjuala aktiva, langkah akhir perhitungan arus kas dari operasi adalah mempelajari perubahan dalam aktiva (kewajiban) lancar.
Investasi Metode Ekuitas
Dalam akuntansi metode ekuitas, investor mencatat bagian atas laba perusahaan investasi sebagai laba dan mencatat dividen sebagai pengurang saldo investasi. Porsi laba yang tidak dibagi merupakan laba nonkas yang harus dieliminasi dari laporan arus kas, sehinnga yang tersisa hanya porsi laba yang diterima tunai. Hal ini dilakukan dengan mengurangkan bagian atas laba perusahaan investasi dari laba bersih, setelah dikurangi dividen yang diterima.
Akuisisi Perusahaan dengan Saham
Saat satu perusahaan membeli perusahaan lain dengan saham, aktiva dan kewajiban konsolidasi meningkat seiring dengan ekuitas. Namun, yang dilaporkan dalam laporan arus kas hanyalah perubahan pos neraca yang berasal dari transaksi kas. Dengan demikian, penyesuaian neraca untuk menghitung arus kas operasi tidak sama dengan perubahan pos neraca itu sendiri. Perubahan nonkas dalam neraca dilaporkan dalam catatan atas laporan arus kas sebagai aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan nonkas.
Biaya Imbalan Pasca Kerja
Program imbalan pensiun dan program imbalan pasca kerja lainnya mengakui beban biaya jasa dan bunga, setelah dikurangi pengembalian yang diharapkan atas aktiva program. Imbalan yang dibayarkan dicatat sebagai pengurang saldo investasi dan kewajiaban. Selisih lebih antara beban imbalan bersih yang dilaporkan dalam laba bersih dengan imbalan kas yang dibayarkan, harus ditambahkan ke laba bersih untuk menghitung arus kas bersih dari aktiva operasi.
Sekuritas Piutang Usaha
Semakin banyak perusahaan yang memanfaatkan pengalihan atau sekuritasisasi piutang usaha melalui entitas bertujuan khusus (special pupose entity) untuk meningkatkan arus kas. Sekuritasisasi adalah pengalihan piutang adalah pengalihan piutang kepada special pupose entity yang membeli piutang tersebut dengan hasil penjualan obligasi pasar modal. Banyak perusahaan yang melaporkan pengurangan piutang tersebut sebagai penambah arus kas dari operasi karena piutang termasuk dalam aktiva lancar. Perusahaan lain melaporkan arus kas masuk tersebut sebagai aktivitas pendanaan. Analisis harus mewaspadai sumber penurunan piutang dan mempertanyakan apakah penurunan tersebut benar-benar sebagai hasil kinerja operasi yang membaik atau sebagai pinjaman yang disamarkan.
METODE LANGSUNG
Metode langsung melaporkan penerimaan kas kotor terkait dengan operasi pada dasarnya menyesuaikan setiap pos laba rugi dari dasar akrual menjadi dasar kas. Metode langsung melaporkan total arus kas masuk dan arus kas keluar dari aktivitas operasi. Metode ini menyajikan tampilan yang lebih baik bagi analisis untuk menilai jumlah kas masuk dan kas keluar yang merupakan pilihan bagi manajemen. Risiko bagi para pemberi pinjaman lebih besar pada fluktuasi arus kas dari operasi dibandingkan dengan fluktuasi laba bersih. Jika perusahaan menggunakan metode langsung, mereka harus mengungkapkan rekonsiliasi antara laba bersih dengan arus kas dari operasi dalam skedul terpisah. Perusahaan juga minimal harus melaporkan penerimaan dan pengeluaran kas sebagai berikut :
Penerimaan kas :
Kas dari pelanggan, termasuk sewa guna usaha dan lisensi
Bunga dan dividen yang diterima
Penerimaan kas dan operasi lainnya
Pengeluaran kas :
Kas yang dibayarkan kepada karyawan dan pemasok barang atau jasa, termasuk untuk perusahaan asuransi dan iklan
Bunga yang dibayar
Pajak yag dibayar
Pengeluaran kas operasi lainnya
Mengubah Metode Tidak Langsung Menjadi Metode Tidak Langsung
Konversi ini dilakukan dengan memisahkan laba bersih menjadi total pendapatan dan total beban. Selanjutnya, penyesuaian konversi diterapkan pada kategori pendapatan dan beban yang relevan.
ANALISIS ARUS KAS
Kondisi perusahaan antara yang satu dengan lainnya berbeda, oleh karena itu sulit untuk merumuskan analisis arus kas yang standar. analisis laporan arus kas memungkinkan kita untuk menilai kualitas keputusan manajemen dari waktu ke waktu dan dampaknya pada hasil operasi dan posisi keuangan perusahaan.
kesimpulan analisis arus kas meliputi kesimpulan dimana manajemen meletakkan komitmen sumber dayanya, dimana manajemen mengurangi investasi, dari mana kas tambahan dihasilkan, dan dimana klaim atas perusahaan dikurangi. kesimpulan juga terkait dengan penggunaan laba dan pilihan investasi arus kas. analisis juga memungkinkan kita untuk menyimpulkan ukuran, komposisi, pola, dan kestabilan arus kas operasi.
operasi yang menguntungkan menghasilkan pemulihan kas melebihi jumlah yang diinvestasikan, dan sebagai konsekuensinya meningkatkan arus kas masuk. sedangkan kerugian memberikan hasil yang sebaliknya.
kesimpulan harus juga meliputi penjualan untuk variasi segmentasi arus kas. komponen arus kas sering kali menunjukkan petunjuk penting tentang stabilitas sumber kas.
Ukuran Arus Kas Alternatif
Akuntansi akrual memungkinkan alternatif perlakuan akuntansi yang beragam dan memungkinkan potensi manajemen laba. manfaat arus kas sering kali hilang karena penyalahgunaan. laba bersih secara tepat dianggap sebagai ukuran kinerja operasi dan secara konsisten dikaitkan dengan ekuitas.
Perusahaan dan Kondisi Ekonomi
Sebuah neraca menjelaskan aktiva perusahaan pada satu titik waktu tertentu dan sumber pendanaan aktiva-aktiva tersebut. Laporan laba rugi menggambarkan hasil operasi untuk satu periode waktu. Laba meningkatkan aktiva, termasuk kas dan aktiva non kas. Beban merupakan konsumsi atas aktiva. Dengan demikian, laba bersih terkait dengan arus kas melalui penyesuaian pos-pos neraca.
Perusahaan yang sukses maupun yang gagal dapat mtngalami arus kas dari operasi, namun dengan alasan yang jauh berbeda. Perusahaan yang sukses yang menghadapi masalah investasi dalam piutang dan persediaan yang meningkat untuk memenuhi permintaan pelanggan yang meningkat, mendapati bahwa keuntungan yang meningkat berguna untuk mendapatkan pendanaan tambahan dengan utang maupun ekuitas. Keuntungan ini pada akhirnya menghasilkan arus kas positif. Sedangkan perusahaan yang gagal mengalami kekurangan kas karena penurunan perputaran piutang dan persediaan, mangalami kerugian operasi, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut atas faktor lainnya. Perusahaan yang gagal dapat meningkatkan arus kas dengan mengurangi piutang dan persediaan, namun hal ini umumnya disertai dengan penurunan pelayanan pada pelanggan, yang menurunkan laba lebih lanjut. Faktor-faktor tersebut merupakan tanda krisis saat ini dan dimasa depan, serta kekurangan kas, termasuk penurunan kredit perdagangan. Penurunan arus kas bagi perusahaan gagal memiliki implikasi yang sama sekali berbeda dengan implikasinya bagi perusahaan yang sukses. Meskipun manajer gagal dapat meminjam uang, biaya dan pinjaman hanya akan memperbesar kerugian. Profitabilitas merupakan variabel utama, tanpa profitabilitas perusahaan menuju kehancuran. Perubahan modal kerja operasi juga harus diinterpretasikan dalam lingkungan ekonomi. Peningkatan piutang dapat menandakan permintaan pelanggan yang meningkat atau merupakan pertanda ketidakmampuan untuk menagih piutang tepat waktu.
Kondisi inflasi menambah kesulitan keuangan dan tantangan bagi perusahaan. Tantangan utama meliputi penggantian aktiva tetap pada harga yang lebih tinggi dari beban penyusutan, meningkatnya investasi dalam piutang dan persediaan, dan kebijakan dividen yang didasarkan pada laba yang tidak menyediakan biaya sumber daya yang digunakan dalam operasi. Meskipun keputusan menajemen tidak harus dilaporkan dalam laporan keuangan, implikasi dan pentingnya laporan keuangan tidak dapat di abaikan. Informasi tentang bagaimana dampak tindakan manajemen dalam kondisi inflasi dapat dicari dalam laporan arus kas. Hal ini menyebabkan fokus pada arus kas dari operasi setelah pengeluaran modal dan dividen.
Arus Kas Bebas
Turunan analitis laporan arus kas yang bermanfaat adalah penghitungan arus kas bebas. Sebagaimana ukuran analitis lainnya, komponen-komponen perhitungan tersebut harus diperhatikan. Motivasi tersembunyi dalam pelaporan komponen yang digunakan untuk menghitunng arus kas bebas kadangkala memengaruhi manfaatnya. Meskipun tidak ada kesepakatan atas definisi pasti untuk arus kas bebas, salah satu ukuran arus kas bebas adalah sebagai berikut :
Arus kas dari operasi
- Pengeluaran modal bersih untuk mempertahankan kapasitas produksi
- Dividen unttuk saham preferen dan saham biasa
Arus kas bebas
Arus kas bebas positif mencerminkan jumlah yang teresedia bagi aktivitas bisnis setelah penyisihan untuk pendanaan dan investasi yang diperlukan untuk mempertahankan kapasitas produksi pada tingkat sekarang. Pertumbuhan dan fleksibilitas keuangan bergantung pada ketersediaan arus kas bebas. Harus diakui bahwa jumlah pengeluaran modal untuk mempertahankan kapasitas produksi umumnya tidak diungkapkan. Junlah ini disajikan sebagai bagian total pengeluaran modal, yang diungkapkan, namun meliputi pengeluaran untuk ekspansi kapasitas produksi. Pemisahan dua komponen pengeluaran modal ini sulit dilaksanakan. Laporan arus kas jarang memisahkan pengeluaran modal menjadi komponen untuk mempertahankan dan kompensasi untuk ekspansi.
Arus Kas sebagai Validasi
Lapotan arus kas merupakan jembatan penting antara laporan laba rugi dengan neraca. Laporan arus kas melaporkan arus kas masuk dan arus kas keluar, serta kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Lebih lanjut, laporan arus kas menyediakan petunjuk penting tentang :
- Kelayakan pendanaan pengeluaran modal
- Sumber kas dalam pendanaan ekspansi
- Ketergantungan pada pendanaan eksternal
- Kebijakan dividen di masa depan
- Kemampuan untuk memenuhi persyaratan utang
- Fleksibilitas keuangan untuk menghadapi kebutuhan dan kesempatan yang tidak diantisipasi
- Praktik keuangan oleh manajemen.
- Kualitas laba rugi.
Laporan arus kas bermanfaat untuk mengidentifikasi hasil atau perkiraan operasi yang salah atau menyesatkan. Laporan arus kas merupakan sumber informasi tindakan dan niat menajemen yang andal dan dapat dipercaya – lebih andal daripada prediksi dan pernyataan pers dari manajemen.
RASIO ARUS KAS KHUSUS
.1Liquidity Ratio
Rasio Kecukupan Arus Kas
Rasio kecukupan arus kas merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan kas dari operasi yang cukup untuk menutup pengeluaran modal, investasi dalam persediaan, dan dividen tunai. Rasio kecukupan arus kas dihitung sebagai berikut :
Jumlah kas dari operasi selama tiga tahun
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jumlah pengeluaran modal, penambahan persediaan, dividen tunai selama tiga tahun
Investasi dalam modal kerja penting lainnya seperti piutang tidak disertakan karena didanai terutama oleh kredit jangka pendek. Dengan demikian, hamya penambahan persediaan yang disertakan.
Rasio kecukupan arus kas perlu diinterpretasikan secara tepat. Rasio sebesar 1 menunjukkan bahwa perusahaan dapat menutup kebutuhan kas tanpa perlu mendapatkan pendanaan eksternal. Rasio kurang dari 1 menunjukkan bahwa sumber kas internal tidak cukup untuk mempertahankan dividen dan tingkat pertumbuhan operasi saat ini. Rasio kecukupan arus kas juga mencerminkan dampak inflasi untuk keperluan pendanaan perusahaan.
Ratio Kecukupan Dividen
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar dividen dengan menggunakan arus kas dari operasi. Rasio ini dapat dimodifikasi untuk menunjukkan pembayaran dividen kepada semua pemegang saham atau hanya kepada pemegang saham biasa. Apabila penutupan arus kas atas pembayaran dividen hanya kepada pemegang saham biasa, maka rasio ini dapat dicari dengan mengurangkan dividen saham preferen dari arus kas operasi dibagi dengan dividen saham biasa.
Semakin tinggi rasio ini,menunjukkan semakin likuid suatu perusahaan, akibatnya akan menarik investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan.
Ratio Dividen Coverage = (cash flow from operations) / dividends
Solvency Ratio
Cash Long-Term Debt Coverage
Rasio ini menunjukkan kecukupan arus kas yang diperoleh dari aktifitas operasi yang digunakan untuk membayar hutang perusahaan. Average total liabilities diperoleh dengan cara menambah saldo awal dengan saldo akhir total kewajiban, kemudian dibagi dengan dua. Suatu bentuk alternatif dari rasio ini adalah dengan mengurangkan arus kas dari operasi dengan pembayaran dividen.
Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan semakin solvent suatu perusahaan. Dari kebanyakan literatur yang ada menyarankan bahwa 20% adalah ukuran yang memadai untuk rasio ini.
Cash long-term debt coverage = cash flow / long term debt
Cash Interest Coverage
Adalah rasio arus kas dari operasi ditambah dengan pembayaran bunga dan pajak terhadap pembayaran bunga aktual. Semakin besar rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin baik.
Beban bunga (interest paid) dan beban pajak pada laporan arus kas metode langsung dapat diperoleh langsung dari aktifitas operasi. Sedangkan arus kas yang menggunakan metode tidak langsung, beban-beban ini dapat diperoleh dari ungkapan tambahan yang menyertai laporan arus kas.
Cash interest coverage = (Cash Flow from Operations + Interest Paid + Taxes Paid) /
Interest Paid
Capital Expenditure
Capital Acquisition Ratio
Rasio ini menunjukkan apakah perusahaan dapat membayar pengeluaran modalnya dengan segera. Apabila rasio ini sama dengan 100% atau lebih, maka menunjukkan bahwa perusahaan kurang bersandar pada pembiayaaan eksternal dan kontribusi pemilik untuk memindahkan dan menambahkan modal yang ada. Sebaliknya, apabila rasio yang dihasilkan lebih kecil dari 100%, berarti perusahaan tidak mampu menutupi biaya pengeluaran modal dari aktifitas operasi.
Capital expenditure ratio = (cash flow from operations - dividends) / cash paid for acquisitions.
Rasio Reinvestasi Kas
Rasio reinvestasi kas merupakan ukuran atas persentase investasi dalam aktiva yang mencerminkan kas operasi yang ditahan dan diinvestasikan kembali dalam perusahaan untuk mengganti aktiva dan menumbuhkan operasi. Rasio ini dihitng sebagai berikut :
Arus kas operasi – Dividen
---------------------------------------------------------------------------------
Aktiva tetap kotor + Investasi + Aktiva lain + Modal kerjaan
Rasio reinvestasi dalam kisaran 7% sampai 11% umumnya dianggap memadai
Secara umum, informasi arus kas membantu untuk menilai kemampuan peusahaan dalam memenuhi kewajibannya, membayar dividen, meningkatkan kapasitas, dan mendapatkan pendanaan. Informasi arus kas juga membantu dalam menilai kualitas laba dan ketergantungan laba pada estimasi dan asumsi tentang arus kas di masa depan. Tujuan laporan arus aks adalah menyediakan informasi arus kas masuk dan arus kas keluar untuk satu periode.
Relevansi Kas
Kas merupakan aktiva yang paling liquid serta menawarkan likuiditas dan fleksibilitas bagi perusahaan. Kas merupakan awal sekaligus akhir siklus operasi perusahaan. Aktivitas operasi perusahaan melibatkan konversi kas menjadi berbagai aktiva yang digunakan untuk menghasilkan piutang dari penjualan kredit.
Kas merupakan ukuran akhir profitabilitas dimana kaslah yang digunakan untuk membayar utang, mengganti peralatan, memperluas fasilitas, dan membayar dividen. Dalam analisis arus kas akan membantu dalam menilai likuiditas, solvabilitas, dan fleksibilitas keuangan. Liquiditas merupakan kedekatan aktiva dan kewajiban pada kas. Solvabilitas atau solvensi merupakan kemampuan untuk membayar kewajiban saat jatuh tempo. Fleksibilitas keuangan adalah kemampuan untuk bereaksi dan menyesuaikan diri terhadap kesempatan dan kesulitan. Laporan cash flow berguna dan penting bagi analisis dan menyediakan informasi untuk menjawab pertanyaaan pengguna laporan seperti :
• Berapa banyak kas yang dihasilkan dari atau digunakan untuk operasi ?
• Pengeluaran apakah yang dibayar dengan kas dari operasi ?
• Bagaimana dividen dibayar saat perusahaan mengalami kerugian operasi ?
• Berasal dari manakah kas untuk pembayaran utang ?
• Berasal dari manakah kas untuk pembayaran saham preferen ?
• Bagaimana kenaikan investasi didanai ?
• Berasal dari manakah kas untuk pembelian aktiva tetap yang baru ?
• Mengapa kas lebih rendah saat laba meningkat ?
• Bagaiman penggunaan kas yang berasal dari pendanaan baru ?
Pelaporan Berdasarkan Aktivitas
Operating Activities merupakan aktivitas perusahaan yang terkait dengan laba. Selain pendapatan dan beban yang disajikan dalam laporan laba rugi, aktivitas operasi juga meliputi arus kas masuk dan arus kas keluar bersih yang berasal dari aktivitas operasi terkait, seperti pemberian kredit kepada pelanggan, investasi dalam persediaan, dan perolehan kredit dari pemasok. Aktivitas operasi terkait dengan pos-pos laporan laba rugi dan dengan pos-pos operasi neraca.
Investing Activities merupakan cara untuk memperoleh dan menghentikan aktivitas nonkas. Aktivitas ini meliputi aktiva yang diharapkan untuk menghasilkan pendapatan bagi perusahaan. Aktivitas ini juga meliputi pembelian pinjaman dan penagihan pokok pinjaman.
Financing Activities merupakan cara untuk mendistribusikan, menarik, dan mendapatkan dana untuk mendukung aktivitas bisnis. Aktivitas ini meliputi perolehan pinjaman dari kreditor dan pembayaran pokok pinjaman. Aktivitas ini juga meliputi kontribusi dan penarikan oleh pemilik serta pengembalian atas investasi (dividen).
Menyusun Laporan Arus Kas
Terdapat dua metode untuk pelaporan arus kas dari operasi yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Dalam Metode tidak langsung (indirect method), laba bersih disesuaikan dengan pos penghasilan (beban) nonkas dengan akrual., untuk menghasilkan arus kas dari operasi. Keunggulan metode ini adalah adanya rekonsiliasi perbedaan antara laba bersih dengan arus kas operasi. Rekonsiliasi ini dapat membantu pengguna laporan untuk memprediksi arus kas melalui prediksi laba yang kemudian disesuaikan untuk jarak antara laba besih dengan arus kas – akual nonkas. Metode langsung (direct method) disediakan setelah itu sebagai perbandingan. Metode ini menyesuaikan setiap pos laporan laba rugi untuk akrual terkait, sehingga menghasilkan format yang lebih baik untuk menilai jumlah arus kas masuk (keluar) operasi. Kedua metode tersebut menggunakan format yang sama untuk menghitung kas bersih dari aktivitas investasi dan pendanaan. Yang berbeda hanyalah penyusunan arus kas bersih dari aktivitas operasi.
A. Mempersiapkan Laporan Arus Kas
Laporan arus kas merupakan campuran antara laporan laba rugi dengan neraca. Laba bersih mula-mula disesuaikan untuk penghasilan dan beban nonkas untuk menghasilkan laba kas. Laba kas ini kemudian disesuaikan untuk kas yang dihasilkan dan digunakan oleh transaksi neraca untuk menghasilkan arus kas dari aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan.
Tiik awal laporan arus kas adalah laba bersih yang mula-mula disesuaikan untuk beban penyusutan dan amortisasi nonkas. Proses penyusutan kemudian mengalokasikan biaya perolehan selama masa manfaatnya unuk menandingkan beban terhadap pendapatan yang dihasilkan oleh aktiva yang bersangkutan. Karena laporan arus kas berfokus pada arus kas, beban nonkas yang diakui dalam perhitungan laba besih harus dihilangkan, yaitu dengan menambahkan kembali beban penyusutan dan amortisasi. Penambahan beban penyusutan dan amotisasi tersebut tidak meningkatkan arus kas operasi melainkan hanya menghapuskan beban yang dikurangkan dalam perhitungan laba bersih. Cara yang sama juga digunakan unuk menyesuaikan laba bersih terhadap keuntungan (kerugian) penjualan aktiva. Tujuan penyesuaian ini bukanlah untuk mengeleminasi keuntungan (kerugian) secara keseluruhan, melainkan memindahkannya dari bagian operasi laporan arus kas. Arus kas masuk dari penjualan aktiva disajikan dalam arus kas bersih dari aktivitas investasi. Penyesuaian terakhir adalah analisis kas yang dihasilkan oleh perubahan dalam aktiva lancar dan kewajiban lancar.
Penyesuaian untuk perubahan pos neraca dapat diringkas sebagai berikut :
Kenaikan Penurunan
Aktiva (Arus keluar) Arus masuk
Kewajiban Arus Masuk (Arus keluar)
Setelah laba bersih disesuaikan untuk beban penyusutan dan amortisasi serta keuntungan (kerugian) penjuala aktiva, langkah akhir perhitungan arus kas dari operasi adalah mempelajari perubahan dalam aktiva (kewajiban) lancar.
Investasi Metode Ekuitas
Dalam akuntansi metode ekuitas, investor mencatat bagian atas laba perusahaan investasi sebagai laba dan mencatat dividen sebagai pengurang saldo investasi. Porsi laba yang tidak dibagi merupakan laba nonkas yang harus dieliminasi dari laporan arus kas, sehinnga yang tersisa hanya porsi laba yang diterima tunai. Hal ini dilakukan dengan mengurangkan bagian atas laba perusahaan investasi dari laba bersih, setelah dikurangi dividen yang diterima.
Akuisisi Perusahaan dengan Saham
Saat satu perusahaan membeli perusahaan lain dengan saham, aktiva dan kewajiban konsolidasi meningkat seiring dengan ekuitas. Namun, yang dilaporkan dalam laporan arus kas hanyalah perubahan pos neraca yang berasal dari transaksi kas. Dengan demikian, penyesuaian neraca untuk menghitung arus kas operasi tidak sama dengan perubahan pos neraca itu sendiri. Perubahan nonkas dalam neraca dilaporkan dalam catatan atas laporan arus kas sebagai aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan nonkas.
Biaya Imbalan Pasca Kerja
Program imbalan pensiun dan program imbalan pasca kerja lainnya mengakui beban biaya jasa dan bunga, setelah dikurangi pengembalian yang diharapkan atas aktiva program. Imbalan yang dibayarkan dicatat sebagai pengurang saldo investasi dan kewajiaban. Selisih lebih antara beban imbalan bersih yang dilaporkan dalam laba bersih dengan imbalan kas yang dibayarkan, harus ditambahkan ke laba bersih untuk menghitung arus kas bersih dari aktiva operasi.
Sekuritas Piutang Usaha
Semakin banyak perusahaan yang memanfaatkan pengalihan atau sekuritasisasi piutang usaha melalui entitas bertujuan khusus (special pupose entity) untuk meningkatkan arus kas. Sekuritasisasi adalah pengalihan piutang adalah pengalihan piutang kepada special pupose entity yang membeli piutang tersebut dengan hasil penjualan obligasi pasar modal. Banyak perusahaan yang melaporkan pengurangan piutang tersebut sebagai penambah arus kas dari operasi karena piutang termasuk dalam aktiva lancar. Perusahaan lain melaporkan arus kas masuk tersebut sebagai aktivitas pendanaan. Analisis harus mewaspadai sumber penurunan piutang dan mempertanyakan apakah penurunan tersebut benar-benar sebagai hasil kinerja operasi yang membaik atau sebagai pinjaman yang disamarkan.
METODE LANGSUNG
Metode langsung melaporkan penerimaan kas kotor terkait dengan operasi pada dasarnya menyesuaikan setiap pos laba rugi dari dasar akrual menjadi dasar kas. Metode langsung melaporkan total arus kas masuk dan arus kas keluar dari aktivitas operasi. Metode ini menyajikan tampilan yang lebih baik bagi analisis untuk menilai jumlah kas masuk dan kas keluar yang merupakan pilihan bagi manajemen. Risiko bagi para pemberi pinjaman lebih besar pada fluktuasi arus kas dari operasi dibandingkan dengan fluktuasi laba bersih. Jika perusahaan menggunakan metode langsung, mereka harus mengungkapkan rekonsiliasi antara laba bersih dengan arus kas dari operasi dalam skedul terpisah. Perusahaan juga minimal harus melaporkan penerimaan dan pengeluaran kas sebagai berikut :
Penerimaan kas :
Kas dari pelanggan, termasuk sewa guna usaha dan lisensi
Bunga dan dividen yang diterima
Penerimaan kas dan operasi lainnya
Pengeluaran kas :
Kas yang dibayarkan kepada karyawan dan pemasok barang atau jasa, termasuk untuk perusahaan asuransi dan iklan
Bunga yang dibayar
Pajak yag dibayar
Pengeluaran kas operasi lainnya
Mengubah Metode Tidak Langsung Menjadi Metode Tidak Langsung
Konversi ini dilakukan dengan memisahkan laba bersih menjadi total pendapatan dan total beban. Selanjutnya, penyesuaian konversi diterapkan pada kategori pendapatan dan beban yang relevan.
ANALISIS ARUS KAS
Kondisi perusahaan antara yang satu dengan lainnya berbeda, oleh karena itu sulit untuk merumuskan analisis arus kas yang standar. analisis laporan arus kas memungkinkan kita untuk menilai kualitas keputusan manajemen dari waktu ke waktu dan dampaknya pada hasil operasi dan posisi keuangan perusahaan.
kesimpulan analisis arus kas meliputi kesimpulan dimana manajemen meletakkan komitmen sumber dayanya, dimana manajemen mengurangi investasi, dari mana kas tambahan dihasilkan, dan dimana klaim atas perusahaan dikurangi. kesimpulan juga terkait dengan penggunaan laba dan pilihan investasi arus kas. analisis juga memungkinkan kita untuk menyimpulkan ukuran, komposisi, pola, dan kestabilan arus kas operasi.
operasi yang menguntungkan menghasilkan pemulihan kas melebihi jumlah yang diinvestasikan, dan sebagai konsekuensinya meningkatkan arus kas masuk. sedangkan kerugian memberikan hasil yang sebaliknya.
kesimpulan harus juga meliputi penjualan untuk variasi segmentasi arus kas. komponen arus kas sering kali menunjukkan petunjuk penting tentang stabilitas sumber kas.
Ukuran Arus Kas Alternatif
Akuntansi akrual memungkinkan alternatif perlakuan akuntansi yang beragam dan memungkinkan potensi manajemen laba. manfaat arus kas sering kali hilang karena penyalahgunaan. laba bersih secara tepat dianggap sebagai ukuran kinerja operasi dan secara konsisten dikaitkan dengan ekuitas.
Perusahaan dan Kondisi Ekonomi
Sebuah neraca menjelaskan aktiva perusahaan pada satu titik waktu tertentu dan sumber pendanaan aktiva-aktiva tersebut. Laporan laba rugi menggambarkan hasil operasi untuk satu periode waktu. Laba meningkatkan aktiva, termasuk kas dan aktiva non kas. Beban merupakan konsumsi atas aktiva. Dengan demikian, laba bersih terkait dengan arus kas melalui penyesuaian pos-pos neraca.
Perusahaan yang sukses maupun yang gagal dapat mtngalami arus kas dari operasi, namun dengan alasan yang jauh berbeda. Perusahaan yang sukses yang menghadapi masalah investasi dalam piutang dan persediaan yang meningkat untuk memenuhi permintaan pelanggan yang meningkat, mendapati bahwa keuntungan yang meningkat berguna untuk mendapatkan pendanaan tambahan dengan utang maupun ekuitas. Keuntungan ini pada akhirnya menghasilkan arus kas positif. Sedangkan perusahaan yang gagal mengalami kekurangan kas karena penurunan perputaran piutang dan persediaan, mangalami kerugian operasi, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut atas faktor lainnya. Perusahaan yang gagal dapat meningkatkan arus kas dengan mengurangi piutang dan persediaan, namun hal ini umumnya disertai dengan penurunan pelayanan pada pelanggan, yang menurunkan laba lebih lanjut. Faktor-faktor tersebut merupakan tanda krisis saat ini dan dimasa depan, serta kekurangan kas, termasuk penurunan kredit perdagangan. Penurunan arus kas bagi perusahaan gagal memiliki implikasi yang sama sekali berbeda dengan implikasinya bagi perusahaan yang sukses. Meskipun manajer gagal dapat meminjam uang, biaya dan pinjaman hanya akan memperbesar kerugian. Profitabilitas merupakan variabel utama, tanpa profitabilitas perusahaan menuju kehancuran. Perubahan modal kerja operasi juga harus diinterpretasikan dalam lingkungan ekonomi. Peningkatan piutang dapat menandakan permintaan pelanggan yang meningkat atau merupakan pertanda ketidakmampuan untuk menagih piutang tepat waktu.
Kondisi inflasi menambah kesulitan keuangan dan tantangan bagi perusahaan. Tantangan utama meliputi penggantian aktiva tetap pada harga yang lebih tinggi dari beban penyusutan, meningkatnya investasi dalam piutang dan persediaan, dan kebijakan dividen yang didasarkan pada laba yang tidak menyediakan biaya sumber daya yang digunakan dalam operasi. Meskipun keputusan menajemen tidak harus dilaporkan dalam laporan keuangan, implikasi dan pentingnya laporan keuangan tidak dapat di abaikan. Informasi tentang bagaimana dampak tindakan manajemen dalam kondisi inflasi dapat dicari dalam laporan arus kas. Hal ini menyebabkan fokus pada arus kas dari operasi setelah pengeluaran modal dan dividen.
Arus Kas Bebas
Turunan analitis laporan arus kas yang bermanfaat adalah penghitungan arus kas bebas. Sebagaimana ukuran analitis lainnya, komponen-komponen perhitungan tersebut harus diperhatikan. Motivasi tersembunyi dalam pelaporan komponen yang digunakan untuk menghitunng arus kas bebas kadangkala memengaruhi manfaatnya. Meskipun tidak ada kesepakatan atas definisi pasti untuk arus kas bebas, salah satu ukuran arus kas bebas adalah sebagai berikut :
Arus kas dari operasi
- Pengeluaran modal bersih untuk mempertahankan kapasitas produksi
- Dividen unttuk saham preferen dan saham biasa
Arus kas bebas
Arus kas bebas positif mencerminkan jumlah yang teresedia bagi aktivitas bisnis setelah penyisihan untuk pendanaan dan investasi yang diperlukan untuk mempertahankan kapasitas produksi pada tingkat sekarang. Pertumbuhan dan fleksibilitas keuangan bergantung pada ketersediaan arus kas bebas. Harus diakui bahwa jumlah pengeluaran modal untuk mempertahankan kapasitas produksi umumnya tidak diungkapkan. Junlah ini disajikan sebagai bagian total pengeluaran modal, yang diungkapkan, namun meliputi pengeluaran untuk ekspansi kapasitas produksi. Pemisahan dua komponen pengeluaran modal ini sulit dilaksanakan. Laporan arus kas jarang memisahkan pengeluaran modal menjadi komponen untuk mempertahankan dan kompensasi untuk ekspansi.
Arus Kas sebagai Validasi
Lapotan arus kas merupakan jembatan penting antara laporan laba rugi dengan neraca. Laporan arus kas melaporkan arus kas masuk dan arus kas keluar, serta kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancarnya. Lebih lanjut, laporan arus kas menyediakan petunjuk penting tentang :
- Kelayakan pendanaan pengeluaran modal
- Sumber kas dalam pendanaan ekspansi
- Ketergantungan pada pendanaan eksternal
- Kebijakan dividen di masa depan
- Kemampuan untuk memenuhi persyaratan utang
- Fleksibilitas keuangan untuk menghadapi kebutuhan dan kesempatan yang tidak diantisipasi
- Praktik keuangan oleh manajemen.
- Kualitas laba rugi.
Laporan arus kas bermanfaat untuk mengidentifikasi hasil atau perkiraan operasi yang salah atau menyesatkan. Laporan arus kas merupakan sumber informasi tindakan dan niat menajemen yang andal dan dapat dipercaya – lebih andal daripada prediksi dan pernyataan pers dari manajemen.
RASIO ARUS KAS KHUSUS
.1Liquidity Ratio
Rasio Kecukupan Arus Kas
Rasio kecukupan arus kas merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan kas dari operasi yang cukup untuk menutup pengeluaran modal, investasi dalam persediaan, dan dividen tunai. Rasio kecukupan arus kas dihitung sebagai berikut :
Jumlah kas dari operasi selama tiga tahun
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jumlah pengeluaran modal, penambahan persediaan, dividen tunai selama tiga tahun
Investasi dalam modal kerja penting lainnya seperti piutang tidak disertakan karena didanai terutama oleh kredit jangka pendek. Dengan demikian, hamya penambahan persediaan yang disertakan.
Rasio kecukupan arus kas perlu diinterpretasikan secara tepat. Rasio sebesar 1 menunjukkan bahwa perusahaan dapat menutup kebutuhan kas tanpa perlu mendapatkan pendanaan eksternal. Rasio kurang dari 1 menunjukkan bahwa sumber kas internal tidak cukup untuk mempertahankan dividen dan tingkat pertumbuhan operasi saat ini. Rasio kecukupan arus kas juga mencerminkan dampak inflasi untuk keperluan pendanaan perusahaan.
Ratio Kecukupan Dividen
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar dividen dengan menggunakan arus kas dari operasi. Rasio ini dapat dimodifikasi untuk menunjukkan pembayaran dividen kepada semua pemegang saham atau hanya kepada pemegang saham biasa. Apabila penutupan arus kas atas pembayaran dividen hanya kepada pemegang saham biasa, maka rasio ini dapat dicari dengan mengurangkan dividen saham preferen dari arus kas operasi dibagi dengan dividen saham biasa.
Semakin tinggi rasio ini,menunjukkan semakin likuid suatu perusahaan, akibatnya akan menarik investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan.
Ratio Dividen Coverage = (cash flow from operations) / dividends
Solvency Ratio
Cash Long-Term Debt Coverage
Rasio ini menunjukkan kecukupan arus kas yang diperoleh dari aktifitas operasi yang digunakan untuk membayar hutang perusahaan. Average total liabilities diperoleh dengan cara menambah saldo awal dengan saldo akhir total kewajiban, kemudian dibagi dengan dua. Suatu bentuk alternatif dari rasio ini adalah dengan mengurangkan arus kas dari operasi dengan pembayaran dividen.
Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan semakin solvent suatu perusahaan. Dari kebanyakan literatur yang ada menyarankan bahwa 20% adalah ukuran yang memadai untuk rasio ini.
Cash long-term debt coverage = cash flow / long term debt
Cash Interest Coverage
Adalah rasio arus kas dari operasi ditambah dengan pembayaran bunga dan pajak terhadap pembayaran bunga aktual. Semakin besar rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin baik.
Beban bunga (interest paid) dan beban pajak pada laporan arus kas metode langsung dapat diperoleh langsung dari aktifitas operasi. Sedangkan arus kas yang menggunakan metode tidak langsung, beban-beban ini dapat diperoleh dari ungkapan tambahan yang menyertai laporan arus kas.
Cash interest coverage = (Cash Flow from Operations + Interest Paid + Taxes Paid) /
Interest Paid
Capital Expenditure
Capital Acquisition Ratio
Rasio ini menunjukkan apakah perusahaan dapat membayar pengeluaran modalnya dengan segera. Apabila rasio ini sama dengan 100% atau lebih, maka menunjukkan bahwa perusahaan kurang bersandar pada pembiayaaan eksternal dan kontribusi pemilik untuk memindahkan dan menambahkan modal yang ada. Sebaliknya, apabila rasio yang dihasilkan lebih kecil dari 100%, berarti perusahaan tidak mampu menutupi biaya pengeluaran modal dari aktifitas operasi.
Capital expenditure ratio = (cash flow from operations - dividends) / cash paid for acquisitions.
Rasio Reinvestasi Kas
Rasio reinvestasi kas merupakan ukuran atas persentase investasi dalam aktiva yang mencerminkan kas operasi yang ditahan dan diinvestasikan kembali dalam perusahaan untuk mengganti aktiva dan menumbuhkan operasi. Rasio ini dihitng sebagai berikut :
Arus kas operasi – Dividen
---------------------------------------------------------------------------------
Aktiva tetap kotor + Investasi + Aktiva lain + Modal kerjaan
Rasio reinvestasi dalam kisaran 7% sampai 11% umumnya dianggap memadai
Pengendalian Inflasi
Kebijakan moneter Bank Indonesia ditujukan untuk mengelola tekanan harga yang berasal dari sisi permintaan aggregat (demand management) relatif terhadap kondisi sisi penawaran. Kebijakan moneter tidak ditujukan untuk merespon kenaikan inflasi yang disebabkan oleh faktor yang bersifat kejutan yang bersifat sementara (temporer) yang akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu.
Sementara inflasi juga dapat dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari sisi penawaran ataupun yang bersifat kejutan (shocks) seperti kenaikan harga minyak dunia dan adanya gangguan panen atau banjir Dari bobot dalam keranjang IHK, bobot inflasi yang dipengaruhi oleh faktor kejutan diwakili oleh kelompok volatile food dan administered prices yang mencakup kurang lebih 40% dari bobot IHK.
Dengan demikian, kemampuan Bank Indonesia untuk mengendalikan inflasi sangat terbatas apabila terdapat kejutan (shocks) yang sangat besar seperti ketika terjadi kenaikan harga BBM di tahun 2005 dan 2008 sehingga menyebabkan adanya lonjakan inflasi.
Dengan pertimbangan bahwa laju inflasi juga dipengaruhi oleh faktor yang bersifat kejutan tersebut maka pencapaian sasaran inflasi memerlukan kerjasama dan koordinasi antara pemerintah dan BI melalui kebijakan makroekonomi yang terintegrasi naik dari kebijakan fiskal, moneter maupun sektoral. Lebih jauh, karakteristik inflasi Indonesia yang cukup rentan terhadap kejutan-kejutan (shocks) dari sisi penawaran memerlukan kebijakan-kebijakan khusus untuk permasalahan tersebut.
Dalam tataran teknis, koordinasi antara pemerintah dan BI telah diwujudkan dengan membentuk Tim Koordinasi Penetapan Sasaran, Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI) di tingkat pusat sejak tahun 2005. Anggota TPI, terdiri dari Bank Indonesia dan departmen teknis terkait di Pemerintah seperti Departemen Keuangan, Kantor Menko Bidang Perekonomian, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian, Departemen Perhubungan, dan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Menyadari pentingnya koordinasi tersebut, sejak tahun 2008 pembentukan TPI diperluas hingga ke level daerah. Ke depan, koordinasi antara Pemerintah dan BI diharapkan akan semakin efektif dengan dukungan forum TPI baik pusat maupun daerah sehingga dapat terwujud inflasi yang rendah dan stabil, yang bermuara pada pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan berkelanjutan.
Sementara inflasi juga dapat dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari sisi penawaran ataupun yang bersifat kejutan (shocks) seperti kenaikan harga minyak dunia dan adanya gangguan panen atau banjir Dari bobot dalam keranjang IHK, bobot inflasi yang dipengaruhi oleh faktor kejutan diwakili oleh kelompok volatile food dan administered prices yang mencakup kurang lebih 40% dari bobot IHK.
Dengan demikian, kemampuan Bank Indonesia untuk mengendalikan inflasi sangat terbatas apabila terdapat kejutan (shocks) yang sangat besar seperti ketika terjadi kenaikan harga BBM di tahun 2005 dan 2008 sehingga menyebabkan adanya lonjakan inflasi.
Dengan pertimbangan bahwa laju inflasi juga dipengaruhi oleh faktor yang bersifat kejutan tersebut maka pencapaian sasaran inflasi memerlukan kerjasama dan koordinasi antara pemerintah dan BI melalui kebijakan makroekonomi yang terintegrasi naik dari kebijakan fiskal, moneter maupun sektoral. Lebih jauh, karakteristik inflasi Indonesia yang cukup rentan terhadap kejutan-kejutan (shocks) dari sisi penawaran memerlukan kebijakan-kebijakan khusus untuk permasalahan tersebut.
Dalam tataran teknis, koordinasi antara pemerintah dan BI telah diwujudkan dengan membentuk Tim Koordinasi Penetapan Sasaran, Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI) di tingkat pusat sejak tahun 2005. Anggota TPI, terdiri dari Bank Indonesia dan departmen teknis terkait di Pemerintah seperti Departemen Keuangan, Kantor Menko Bidang Perekonomian, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian, Departemen Perhubungan, dan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Menyadari pentingnya koordinasi tersebut, sejak tahun 2008 pembentukan TPI diperluas hingga ke level daerah. Ke depan, koordinasi antara Pemerintah dan BI diharapkan akan semakin efektif dengan dukungan forum TPI baik pusat maupun daerah sehingga dapat terwujud inflasi yang rendah dan stabil, yang bermuara pada pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan berkelanjutan.
Evaluasi Metode Penentuan Harga
penentuan harga merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi dunia perbankan, baik bank konvensional maupun bank syariah, karna harga seperti layaknya suatu usaha adalah bagaikan darah yang mengalir disetiap tubuh dan sebagai aliran darah yang menghangatkan tubuh dan menyesuaikan dengan keadaan diluar, begitupun dengan harga yang dapat diibaratkan sebagai darah dalam aliran tubuh sebagai penghangat dan penyesuaian dengan keadaan diluar, dan lebih ekstremnya lagi apabila kita katakan apabila salah dalam menentukan harga, maka suatu usaha tidak akan lama hidupnya, bagaikan manusia yang kehilangan darahnya terlalu banyak sehingga akhirnya akan mati lemas.
dan apabila kita kupas lebih detail lagi maka harga tersebut akan menentukan kelangsungan hidup suatu usaha, karna hal itu akan berhubungan langsung dengan biaya operasional serta semua biaya yang wajib dikeluarkan saat usaha tersebut berjalan dan beroperasi sehari-hari hingga menemui saat yang tepat, yaitu dimana usaha tersebut memiliki integritas dan menemui pelanggan yang mempunyai pesanan dan pembelian dalam jumlah yang sangat besar dan teratur, sehingga keuntungan yang didapat dari harga yang tepat menumbuh kembangkan usaha tersebut hingga menjadi kuat dan stabil serta dapat mengembangkan usaha yang berkaitan lainnya dengan usaha yang
pertama, misalnya usaha penjualan beras yang apabila telah berkembang maju dan banyak pelanggannya, maka usaha tersebut perlu mempunyai divisi angkutan kendaraan seperti truck untuk mengangkutnya, dan dapat dikelola sebagai bisnis pengangkutan, apabila telah maju pesat dan membutuhkan tempat yang lebih luas lagi berarti membutuhkan gudang yang sekaligus bisa dipergunakan sebagai gudang yang sebagian tempat kosongnya dapat disewakan dan dikembangkan menjadi divisi pergudangan, dan lain sebagainya.
Begitupun dibidang keuangan dan perbankan, bagi bank konvensional harga tersebut adalah bunga, biaya provisi, administrasi, komisi, biaya kirim, biaya tagih, biaya sewa, biaya iuran dan biaya lainnya, sedangkan harga bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah berarti bagi hasil.
Bagi bank yang berdasarkan prinsip konvensional pengertian harga berdasarkan bunga terdiri dari 3 macam yaitu harga beli, harga jual, dan biaya yang dibebankan kepada nasabahnya
dan apabila kita kupas lebih detail lagi maka harga tersebut akan menentukan kelangsungan hidup suatu usaha, karna hal itu akan berhubungan langsung dengan biaya operasional serta semua biaya yang wajib dikeluarkan saat usaha tersebut berjalan dan beroperasi sehari-hari hingga menemui saat yang tepat, yaitu dimana usaha tersebut memiliki integritas dan menemui pelanggan yang mempunyai pesanan dan pembelian dalam jumlah yang sangat besar dan teratur, sehingga keuntungan yang didapat dari harga yang tepat menumbuh kembangkan usaha tersebut hingga menjadi kuat dan stabil serta dapat mengembangkan usaha yang berkaitan lainnya dengan usaha yang
pertama, misalnya usaha penjualan beras yang apabila telah berkembang maju dan banyak pelanggannya, maka usaha tersebut perlu mempunyai divisi angkutan kendaraan seperti truck untuk mengangkutnya, dan dapat dikelola sebagai bisnis pengangkutan, apabila telah maju pesat dan membutuhkan tempat yang lebih luas lagi berarti membutuhkan gudang yang sekaligus bisa dipergunakan sebagai gudang yang sebagian tempat kosongnya dapat disewakan dan dikembangkan menjadi divisi pergudangan, dan lain sebagainya.
Begitupun dibidang keuangan dan perbankan, bagi bank konvensional harga tersebut adalah bunga, biaya provisi, administrasi, komisi, biaya kirim, biaya tagih, biaya sewa, biaya iuran dan biaya lainnya, sedangkan harga bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah berarti bagi hasil.
Bagi bank yang berdasarkan prinsip konvensional pengertian harga berdasarkan bunga terdiri dari 3 macam yaitu harga beli, harga jual, dan biaya yang dibebankan kepada nasabahnya
JENIS-JENIS SURAT BERHARGA
Berikut ini contoh jenis-jenis surat berharga yang diperjualbelikan di pasar uang
Treasury Bills (T-Bills)
• T-Bills merupakan instrument utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau Bank Sentral atas unjuk dengan jumlah tertentu yang akan dibayarkan kepada pemegang pada tanggal yang telah ditetapkan.
• Instrumen ini berjangka waktu jatuh tempo satu tahun atau kurang.
• Instrumen yg sangat aman karena diterbitkan oleh pemerintah atau biasanya oleh Bank Sentral. Oleh karena itu instrumen ini sangat mudah diperjualbelikan dan disukai oleh perusahaan-perusahaan, terutama oleh lembaga-lembaga keuangan untuk dijadikan sebagai cadangan likuiditas sekuner yg memberikan hasil.
• T-Bills (istilah umum digunakan di dunia internasional) kalau di Indonesia adalah SBI (Sertifikat Bank Indonesia).
Commercial Paper
• Commercial Paper (CP) pada dasarnya merupakan promes yang tidak disertai dengan jaminan (unsequred promissory notes), diterbitkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana jangka pendek dan dijual kepada investor dalam pasar uang. Penerbit berjanji akan membayar sejumlah tertentu uang pada saat jatuh tempo. Penerbit CP adalah perusahaan yang mempunyai kredibilitas tinggi.
• Jangka waktu jatuh tempo CP ini berkisar mulai dari beberapa hari sampai 270 hari.
• Penjualan CP dilakukan umumnya dengan sistem diskonto, namun beberapa diantaranya menggunakan bunga sebagaimana halnya dengan kredit.
• Dalam pelaksanaannya seringkali CP diterbitkan dengan backup fasilitas credit line dari bank yang jumlahnya mendekati atau sama dengan nilai CP yang diterbitkan. Dalam perkembangannya di beberapa negara, CP diterbitkan dengan dukungan aset perusahaan lainnya, misalnya piutang, dsb. Bahkan perkembangan terakhir CP diterbitkan dengan bank garansi atau jaminan dari perusahaan induknya. Namun kasus ini terjadi bila investor tertentu meminta jaminan dari nilai CP yang dibeli dalam jumlah besar.
• Penerbitan CP dapat dilakukan secara langsung kepada investor maupun secara tidak langsung dengan menggunakan jasa perantara.
Kelebihan CP bagi penerbit dan investor antara lain sbb:
Bagi Penerbit:
a. Tingkat bunga CP lebih rendah daripada prime rate, yaitu tingkat bunga kredit yang dikenakan perbankan kepada nasabah utamanya, sehingga biaya dana akan menjadi lebih murah.
b. Tidak perlu menyediakan jaminan.
c. Penerbitannya relatif lebih mudah karena pada prinsipnya hanya melibatkan penerbit dan investor.
d. Jangka waktu jatuh temponya lebih fleksibel, dapat diperpanjang atas persetujuan investor.
Bagi Investor:
a. CP menawarkan penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan misalnya Sertifikat Deposito, Treasury Bills.
b. Dapat dijual kembali (didiskontokan) tanpa perlu menunggu jatuh temponya.
c. Tingkat keamanannya relatif tinggi karena penerbit CP umumnya perusahaan dengan rating yang tinggi.
Kelemahan CP dilihat dari kepentingan investor dan penerbit antara lain:
1. Bagi investor, CP merupakan instrumen yang tidak disertai dengan jaminan. Kemungkinan penerbit melakukan rekayasa laporan keuangan untuk memperlihatkan keadaan likuiditas dan kemampuan perolehan labanya.
2. Bagi perusahaan penerbit, CP merupakan sumber dana jangka pendek sehingga perusahaan kurang leluasa untuk dijadikan sebagai modal investasi.
Sertifikat Deposito atau negotiable certificate of deposit (CD)
• Deposito berjangka yang bukti simpanannya dapat diperdagangkan. Jadi mempunyai ciri pokok dapat dipindahtangankan atau diperjualbelikan sebelum jangka waktu jatuh temponya.
• Di Indonesia, CD diterbitkan oleh bank-bank umum atas dasar diskonto. Perhitungan diskonto CD tersebut sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia.
Banker’s Acceptance (BA)
BA adalah time draft (wesel berjangka) yang ditarik oleh seorang eksportir atau importir atas suatu bank untuk membayar sejumlah barang atau untuk membeli valuta asing. Apabila bank menyetujui wesel tersebut, bank akan menstempel dengan kata ”accepted” di atas wesel tersebut dan memprosesnya. Dengan demikian bank yang menerima dan memproses tersebut memiliki suatu janji atau jaminan tak bersyarat untuk membayar sebesar nilai nominal aksep tersebut pada saat jatuh tempo. Hal tersebut berarti bank yang bersangkutan menjamin eksportir dan investor dalam pasar uang internasional dari kemungkinan adanya gagal bayar (default). Jangka waktu akseptasi biasanya berkisar 30 sampai 270 hari, namun umumnya 90 hari. Aksep ini merupakan instrumen pasar uang yang berkualitas tinggi. Akseptasi bank sangat aktif diperdagangkan antar lembaga-lembaga keuangan, perusahaan industri, dealer surat-surat berharga sebagai investasi yang berkualitas tinggi dan sangat mudah diuangkan. Aksep digunakan dalam perdagangan ekspor impor karena banyak eksportir yang tidak pasti dan tidak yakin betul terhadap credit standing importir yang dikirimi barang. Eksportir sangat tergantung paa pembiayaan akseptasi oleh bank domestik atau suatu bank asing. Dengan demikian, aksep adalah instrumen keuangan yang dirancang untuk mengalihkan resiko perdagangan internasional kepada pihak ketiga yang akan mengambil resiko tersebut karena ia memiliki keahlian dalam menilai resiko kredit dan menyebarkan resiko tersebut dalam berbagai pinjaman. Ketiga pihak dalam transaksi tersebut yaitu eksportir, importir dan bank penerbit, mendapatkan keuntungan dari metode pembiayaan perdagangan internasional ini sebagai berikut:
1. Eksportir dapat menerima uangnya segera tanpa penundaan.
2. Importir dapat menunda pembayarannya sesuai dengan jangka waktu credit line yang disepakati dengan bank.
3. Bank penerbit yang memegang Banker’s Acceptance (didiskonto dari eksportir) merupakan instrumen keuangan yang sangat likuid yang dapat dijual sebelum jatuh tempo melalui dealer bila membutuhkan likuiditas.
Bill of Exchange
• Bill of Exchange atau wesel adalah suatu perintah tertulis tak bersyarat yang ditujukan oleh seseorang kepada pihak lainnya untuk membayar sejumlah uang pada saat diperlihatkan atau pada tanggal tertentu kepada penarik atau order atau pembawa.
• Karena sifatnya yang likuid, artinya penjual boleh melakukan pembayaran lebih awal sebelum wesel tersebut jatuh tempo dengan cara mendiskontokannya kepada bank-bank atau lembaga-lembaga keuangan lainnya sebagai investasi jangka pendek, maka instrumen ini sangat umum digunakan dalam perdagangan.
• Penarikan wesel ini biasanya selalu didahului dengan adanya transaksi jual beli barang. Dimana penjual akan menjadi penarik wesel dan pembeli barang sebagai tertarik.
• Jangka waktu jatuh tempo wesel ini umumnya berkisar 6 hari sampai 180 hari.
• Pada prinsipnya Bill of exchange ini akan berubah menjadi Banker’s Acceptance apabila telah diaksep oleh bank. Oleh karena itu wesel ini dapat diperjualbelikan secara diskonto.
Repurchase Agreement (Repo)
• Repo adalah transaksi jual beli surat-surat berharga disertai dengan perjanjian bahwa penjual akan membeli kembali surat-surat berharga yang dijual; tersebut pada tanggal dan dengan harga yang telah ditetapkan lebih dahulu.
• Surat-surat berharga yang biasanya dijadikan sebagai instrumen dalam transaksi Repo adalah surat-surat berharga yang dapat diperjualbelikan secara diskonto, misalnya SBI, SBPU, CD, CP dan T-bills
Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
• SBI adalah surat berharga dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek.
• Karakteristik SBI:
o Satuan unit sebesar Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah).
o Berjangka waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan.
o Penerbitan dan perdagangan dilakukan dengan sistem diskonto.
o Diterbitkan tanpa warkat, artinya SBI diterbitkan tanpa adanya fisik SBI itu sendiri dan bukti kepemilikan bagi pemegang hanya berupa pencatatan elektronis.
o Dapat dipindahtangankan (negotiable).
• SBI sebagai instrumen kebijaksanaan operasi pasar terbuka, terutama untuk tujuan kontraksi moneter. SBI yang ditebitkan dan diperdagangkan dengan sistem lelang, pada dasarnya penggunaannya sama dengan penggunaan T-Bills di pasar uang Amerika Serikat. Melalui penggunaan SBI tersebut, BI dapat secara tidak langsung dapat mempengaruhi tingkat bunga di pasar uang dengan cara mengumumkan Stop Out Rate (SOR).
• SOR adalah tingkat suku bunga yang diterima oleh BI atas penawaran tingkat bunga dari peserta lelang. Selanjutnya, SOR tersebut akan dapat dipakai sebagai indikator bagi tingkat suku bunga transaksi di pasar uang pada umumnya.
• SOR merupakan kebijakan Bank Indonesia dalam melakukan penjualan SBI secara lelang kepada Bank atau Lembaga Keuangan atau melalui Broker, dengan tujuan:
1. Untuk mengendalikan baik volume uang beredar maupun tingkat bunga melalui target volume yang diinginkan dan tingkat bunga dalam suatu batas tertentu.
2. Dengan menyerahkan tingkat bunga pada Prime Dealer untuk jumlah 60%, maka tingkat bunga menjadi wajar.
Pola pembelian SBI:
o Pembelian melalui Pasar Perdana (langsung ke BI)
o Pembelian melalui Pasar Sekunder
o Pembelian melalui Broker
Sebelum jatuh tempo SBI boleh diperjualbelikan, baik oleh Bank, LKBB, maupun masyarakat atau dunia usaha setiap saat melalui pasar sekunder. Untuk itu Security House (perantara) akan membeli atau menjual SBI setiap hari dengan tingkat diskonto yang berlaku di pasar. Untuk memperlancar perdagangan SBI ini Bank Sentral Indonesia menunjukkan beberapa market dan broker yang terdiri dari Bank-bank Umum sebagai lembaga penunjang dalam perdagangan SBI. Market maker disini bertindak sebagai penggerak pasar sekunder. Dalam hal ini market maker bertindak sebagai dealer yang berkewajiban sbb:
• Membuat dan mengumumkan quotation.
• Secara aktif mengajukan penawaran dan permintaan SBI di pasar sekunder.
• Membeli dan menjual SBI dari dan kepada pihak yang mencari dan menawarkan SBI di pasar sekunder. Pembelian dan penjualan SBI dapat dilakukan baik secara outright maupun repo. (Transaksi outright adalah transaksi jual beli SBI atas dasar sisa jangka waktu SBI yang bersangkutan, tidak ada kewajiban bagi penjual untuk membeli kembali sebelum jatuh tempo; sedangkan transaksi repo adalah transaksi dengan perjanjian bahwa penjual wajib membeli kembali SBI yang bersangkutan sesuai jangka waktu yang dijanjikan).
Surat Berharga Pasar Uang (SBPU)
SBPU adalah surat-surat berharga berjangka pendek yang dapat diperjualbelikan secara diskonto dengan Bank Indonesia atau lembaga diskonto yang ditunjuk oleh Bank Indonesia.
SBPU sama halnya dengan SBI merupakan instrumen operasi pasar terbuka dalam rangka ekspansi moneter oleh BI dengan menetapkan tingkat diskonto SBPU.
Ditinjau dari jenis transaksi dan warkatnya, SBPU dapat dibedakan sbb:
a. Surat Sanggup (aksep/promes), dapat berupa:
• Surat sanggup yang diterbitkan oleh nasabah dalam rangka penerimaan kredit dari bank untuk membiayai kegiatan tertentu.
• Surat sanggup yang diterbitkan oleh bank dalam rangka pinjaman antar bank.
b. Surat wesel, dapat berupa:
• Surat wesel yang ditarik oleh suatu pihak dan diaksep oleh pihak lain dalam rangka transaksi tertentu. Penarik dan atau tertarik adalah nasabah bank.
• Surat wesel yang ditarik oleh nasabah bank dan diaksep oleh bank dalam rangka pemberian kredit untuk membiayai kegiatan tertentu.
Mekanisme perdagangan SBPU adalah dunia usaha atau masyarakat yang merupakan nasabah berbentuk badan usaha maupun perorangan meneluarkan surat aksep atau wesel (sebagai surat utang) untuk mendapatkan dana dari Bank atau LKBB (Lembaga Keuangan bukan Bank). Kemudian SBPU dijualbelikan oleh Bank dan LKBB melalui security house (perantara) maupun melalui pasar sekunder, yaitu diperjualbelikan antara lembaga-lembaga keuangan itu sendiri serta dunia usaha atau masyarakat. SBPU ini melalui security house juga bisa dijualbelikan ke Bank Sentral Indonesia.
Call Money (Interbank Call Money Market)
• Call Money adalah penempatan atau peminjaman dana jangka pendek (dalam hitungan hari) antar bank.
• Call Money merupakan instrument bank dalam mengatasi kekurangan atau kelebihan dana jangka pendek yang bersifat sementara.
PERANAN BANK
Mendorong pertumbuhan perekonomian suatu negara karena:
1. Sebagai pengumpul dana dari Surplus Spending Unit (SSU) dan penyalur kredit kepada Defisit Spending Unit (DSU)
2. Tempat menabung yang efektif dan produktif
3. Pelaksana dan memperlancar lalu lintas pembayaran praktis, aman dan ekonomis
4. Penjamin penyelesaian perdagangan dengan penerbitan L/C
5. Penjamin penyelesaian proyek dengan menerbitkan bank garansi
RUANG LINGKUP KEGIATAN MANAJEMEN DANA BANK
1. Segala aktivitas dalam rangka penghimpunan dana masyarakat
• Berupa ajakan atau promosi yang bertujuan menghimpun dana dari masyarakat.
• Sebagai lembaga perantara, falsafah yang mendasari kegiatan usaha bank adalah kepercayaan masyarakat.
1. Aktivitas untuk menjaga kepercayaan masyarakat
Ciri-ciri sebagai lembaga kepercayaan masyarakat:
1.
o Dalam menerima simpanan dari SSU, bank hanya memberikan pernyataan tertulis yang menjelaskan bahwa bank telah menerima simpanan dalam jumlah dan untuk jangka waktu tertentu.
o Dalam menyalurkan dana kepada DSU, bank tidak selalu meminta agunan berupa barang sebagai jaminan atas pemebrian kredit yang diberikan kepada DSU yang memiliki reputasi baik.
o Dalam melaksanakan kegiatannya bank lebih banyak menggunakan dana dari masyarakat yang terkumpul dalam banknya dibandingkan dengan modal dari pemilik atau pemegang saham.
1. 3. Penempatan dana dalam bentuk kredit
• Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga/imbalan atau bagi hasil
Unsur-unsur Kredit/ Pembiayaan
• Kepercayaan
• Kesepakatan
• Jangka waktu
• Resiko
• Balas Jasa
MANAJEMEN DANA
• PRINSIP MANAJEMEN DANA
Alokasi penggunaan dana bank dilihat dari segi akuntansi terletak di sisi Aktiva atau Asset dengan struktur rekening-rekening neraca yang tertentu uang umumnya berdasarkan likuiditasnya. Total dana yang tersedia terdiri dari 2 jenis, yaitu Unloanable Fund dan Loanable Fund. Unloanable fund terdiri dari legal reserve requirement yang ditetapkan oleh otoritas moneter (BI) sebesar minimal …% dari total deposit, jumlah kas minimal yang harus tersedia untuk melayani penarikan dana oleh nasabah, Working Capital atau cadangan operasional lainnya.
Loanable Fund dapat diklasifikasikan menjadi Idle Fund dan Operable Fund. Idle Fund adalah dana yang masih menganggur atau belum digunakan pada alokasi yang produktif bagi Bank sedangkan Operable Fund adalah dana yang sudah dioperasikan oleh Bank terutama dalam bentuk kredit yang diberikan pada debitur. Bank selalu berusaha meminimalkan idle fund atau memperbesar operable fund untuk mengoptimalkan keuntungan.
Klasifikasi penggunaan dana ini sangat diperlukan untuk menghitung biaya dana yang harus dikeluarkan Bank (Cost of Fund) yang terdiri dari beberapa cara perhitungan. Berdasarkan Cost Of Fund ini Bank bisa menetapkan harga produk Banknya dengan memperhitungakan interest spead yang diinginkan.
Penggunaan Dana Bank harus memperhatikan waktu pengendapan dana tersebut untuk menjamin likuiditas Bank.
Prinsip penggunaan dana tersebut adalah:
1. Sumber dana jangka pendek digunakan untuk investasi jangka pendek
2. Sumber dana jangka panjang digunakan untuk investasi jangka panjang
Untuk menentukan besar kecilnya buku bunga pinjaman, atau dapat dikatakan sebagai harga produk, yang akan dibebankan kepada nasabah terdapat beberapa komponen yang akan mempengaruhinya. Komponen-komponen tersebut adalah :
1. Total Biaya Dana (Cosh Of Fund)
Merupakan biaya untuk memperoleh simpanana setelah ditambah dengan cadangan wajib (reserve requirement) yang ditetapkan pemerintah. Biaya dana tergantung dari seberapa besar bunga yang ditetapkan utnuk memperoleh dana melalui produk simpanan.
2. Laba yang diinginkan
Menentukan besarnya laba juga sangat mempengaruhi besarnya suku bunga kredit. Dalam hal ini biasanya bank melihat kondisi pesaing dan juga kondisi nasabah (usaha kecil atau besar)
3. Cadangan Resiko kresit macet
Merupakan cadangan terhadap kredit yang macet atas akibat dari suatu hal baik disengaja maupun tidak disengaja. Pihak bank juga memperhitungkan hal tersebut.
4. Biaya Operasi
Merupakan biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam rangka melaksanakan kegiatan operasinya.
5. Pajak
Merupakan pajak yang dibebankan oleh pemerintah kepada bank yang memberikan fasiltas kredit kepada nasabahnya.
Treasury Bills (T-Bills)
• T-Bills merupakan instrument utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau Bank Sentral atas unjuk dengan jumlah tertentu yang akan dibayarkan kepada pemegang pada tanggal yang telah ditetapkan.
• Instrumen ini berjangka waktu jatuh tempo satu tahun atau kurang.
• Instrumen yg sangat aman karena diterbitkan oleh pemerintah atau biasanya oleh Bank Sentral. Oleh karena itu instrumen ini sangat mudah diperjualbelikan dan disukai oleh perusahaan-perusahaan, terutama oleh lembaga-lembaga keuangan untuk dijadikan sebagai cadangan likuiditas sekuner yg memberikan hasil.
• T-Bills (istilah umum digunakan di dunia internasional) kalau di Indonesia adalah SBI (Sertifikat Bank Indonesia).
Commercial Paper
• Commercial Paper (CP) pada dasarnya merupakan promes yang tidak disertai dengan jaminan (unsequred promissory notes), diterbitkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana jangka pendek dan dijual kepada investor dalam pasar uang. Penerbit berjanji akan membayar sejumlah tertentu uang pada saat jatuh tempo. Penerbit CP adalah perusahaan yang mempunyai kredibilitas tinggi.
• Jangka waktu jatuh tempo CP ini berkisar mulai dari beberapa hari sampai 270 hari.
• Penjualan CP dilakukan umumnya dengan sistem diskonto, namun beberapa diantaranya menggunakan bunga sebagaimana halnya dengan kredit.
• Dalam pelaksanaannya seringkali CP diterbitkan dengan backup fasilitas credit line dari bank yang jumlahnya mendekati atau sama dengan nilai CP yang diterbitkan. Dalam perkembangannya di beberapa negara, CP diterbitkan dengan dukungan aset perusahaan lainnya, misalnya piutang, dsb. Bahkan perkembangan terakhir CP diterbitkan dengan bank garansi atau jaminan dari perusahaan induknya. Namun kasus ini terjadi bila investor tertentu meminta jaminan dari nilai CP yang dibeli dalam jumlah besar.
• Penerbitan CP dapat dilakukan secara langsung kepada investor maupun secara tidak langsung dengan menggunakan jasa perantara.
Kelebihan CP bagi penerbit dan investor antara lain sbb:
Bagi Penerbit:
a. Tingkat bunga CP lebih rendah daripada prime rate, yaitu tingkat bunga kredit yang dikenakan perbankan kepada nasabah utamanya, sehingga biaya dana akan menjadi lebih murah.
b. Tidak perlu menyediakan jaminan.
c. Penerbitannya relatif lebih mudah karena pada prinsipnya hanya melibatkan penerbit dan investor.
d. Jangka waktu jatuh temponya lebih fleksibel, dapat diperpanjang atas persetujuan investor.
Bagi Investor:
a. CP menawarkan penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan misalnya Sertifikat Deposito, Treasury Bills.
b. Dapat dijual kembali (didiskontokan) tanpa perlu menunggu jatuh temponya.
c. Tingkat keamanannya relatif tinggi karena penerbit CP umumnya perusahaan dengan rating yang tinggi.
Kelemahan CP dilihat dari kepentingan investor dan penerbit antara lain:
1. Bagi investor, CP merupakan instrumen yang tidak disertai dengan jaminan. Kemungkinan penerbit melakukan rekayasa laporan keuangan untuk memperlihatkan keadaan likuiditas dan kemampuan perolehan labanya.
2. Bagi perusahaan penerbit, CP merupakan sumber dana jangka pendek sehingga perusahaan kurang leluasa untuk dijadikan sebagai modal investasi.
Sertifikat Deposito atau negotiable certificate of deposit (CD)
• Deposito berjangka yang bukti simpanannya dapat diperdagangkan. Jadi mempunyai ciri pokok dapat dipindahtangankan atau diperjualbelikan sebelum jangka waktu jatuh temponya.
• Di Indonesia, CD diterbitkan oleh bank-bank umum atas dasar diskonto. Perhitungan diskonto CD tersebut sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia.
Banker’s Acceptance (BA)
BA adalah time draft (wesel berjangka) yang ditarik oleh seorang eksportir atau importir atas suatu bank untuk membayar sejumlah barang atau untuk membeli valuta asing. Apabila bank menyetujui wesel tersebut, bank akan menstempel dengan kata ”accepted” di atas wesel tersebut dan memprosesnya. Dengan demikian bank yang menerima dan memproses tersebut memiliki suatu janji atau jaminan tak bersyarat untuk membayar sebesar nilai nominal aksep tersebut pada saat jatuh tempo. Hal tersebut berarti bank yang bersangkutan menjamin eksportir dan investor dalam pasar uang internasional dari kemungkinan adanya gagal bayar (default). Jangka waktu akseptasi biasanya berkisar 30 sampai 270 hari, namun umumnya 90 hari. Aksep ini merupakan instrumen pasar uang yang berkualitas tinggi. Akseptasi bank sangat aktif diperdagangkan antar lembaga-lembaga keuangan, perusahaan industri, dealer surat-surat berharga sebagai investasi yang berkualitas tinggi dan sangat mudah diuangkan. Aksep digunakan dalam perdagangan ekspor impor karena banyak eksportir yang tidak pasti dan tidak yakin betul terhadap credit standing importir yang dikirimi barang. Eksportir sangat tergantung paa pembiayaan akseptasi oleh bank domestik atau suatu bank asing. Dengan demikian, aksep adalah instrumen keuangan yang dirancang untuk mengalihkan resiko perdagangan internasional kepada pihak ketiga yang akan mengambil resiko tersebut karena ia memiliki keahlian dalam menilai resiko kredit dan menyebarkan resiko tersebut dalam berbagai pinjaman. Ketiga pihak dalam transaksi tersebut yaitu eksportir, importir dan bank penerbit, mendapatkan keuntungan dari metode pembiayaan perdagangan internasional ini sebagai berikut:
1. Eksportir dapat menerima uangnya segera tanpa penundaan.
2. Importir dapat menunda pembayarannya sesuai dengan jangka waktu credit line yang disepakati dengan bank.
3. Bank penerbit yang memegang Banker’s Acceptance (didiskonto dari eksportir) merupakan instrumen keuangan yang sangat likuid yang dapat dijual sebelum jatuh tempo melalui dealer bila membutuhkan likuiditas.
Bill of Exchange
• Bill of Exchange atau wesel adalah suatu perintah tertulis tak bersyarat yang ditujukan oleh seseorang kepada pihak lainnya untuk membayar sejumlah uang pada saat diperlihatkan atau pada tanggal tertentu kepada penarik atau order atau pembawa.
• Karena sifatnya yang likuid, artinya penjual boleh melakukan pembayaran lebih awal sebelum wesel tersebut jatuh tempo dengan cara mendiskontokannya kepada bank-bank atau lembaga-lembaga keuangan lainnya sebagai investasi jangka pendek, maka instrumen ini sangat umum digunakan dalam perdagangan.
• Penarikan wesel ini biasanya selalu didahului dengan adanya transaksi jual beli barang. Dimana penjual akan menjadi penarik wesel dan pembeli barang sebagai tertarik.
• Jangka waktu jatuh tempo wesel ini umumnya berkisar 6 hari sampai 180 hari.
• Pada prinsipnya Bill of exchange ini akan berubah menjadi Banker’s Acceptance apabila telah diaksep oleh bank. Oleh karena itu wesel ini dapat diperjualbelikan secara diskonto.
Repurchase Agreement (Repo)
• Repo adalah transaksi jual beli surat-surat berharga disertai dengan perjanjian bahwa penjual akan membeli kembali surat-surat berharga yang dijual; tersebut pada tanggal dan dengan harga yang telah ditetapkan lebih dahulu.
• Surat-surat berharga yang biasanya dijadikan sebagai instrumen dalam transaksi Repo adalah surat-surat berharga yang dapat diperjualbelikan secara diskonto, misalnya SBI, SBPU, CD, CP dan T-bills
Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
• SBI adalah surat berharga dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek.
• Karakteristik SBI:
o Satuan unit sebesar Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah).
o Berjangka waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan.
o Penerbitan dan perdagangan dilakukan dengan sistem diskonto.
o Diterbitkan tanpa warkat, artinya SBI diterbitkan tanpa adanya fisik SBI itu sendiri dan bukti kepemilikan bagi pemegang hanya berupa pencatatan elektronis.
o Dapat dipindahtangankan (negotiable).
• SBI sebagai instrumen kebijaksanaan operasi pasar terbuka, terutama untuk tujuan kontraksi moneter. SBI yang ditebitkan dan diperdagangkan dengan sistem lelang, pada dasarnya penggunaannya sama dengan penggunaan T-Bills di pasar uang Amerika Serikat. Melalui penggunaan SBI tersebut, BI dapat secara tidak langsung dapat mempengaruhi tingkat bunga di pasar uang dengan cara mengumumkan Stop Out Rate (SOR).
• SOR adalah tingkat suku bunga yang diterima oleh BI atas penawaran tingkat bunga dari peserta lelang. Selanjutnya, SOR tersebut akan dapat dipakai sebagai indikator bagi tingkat suku bunga transaksi di pasar uang pada umumnya.
• SOR merupakan kebijakan Bank Indonesia dalam melakukan penjualan SBI secara lelang kepada Bank atau Lembaga Keuangan atau melalui Broker, dengan tujuan:
1. Untuk mengendalikan baik volume uang beredar maupun tingkat bunga melalui target volume yang diinginkan dan tingkat bunga dalam suatu batas tertentu.
2. Dengan menyerahkan tingkat bunga pada Prime Dealer untuk jumlah 60%, maka tingkat bunga menjadi wajar.
Pola pembelian SBI:
o Pembelian melalui Pasar Perdana (langsung ke BI)
o Pembelian melalui Pasar Sekunder
o Pembelian melalui Broker
Sebelum jatuh tempo SBI boleh diperjualbelikan, baik oleh Bank, LKBB, maupun masyarakat atau dunia usaha setiap saat melalui pasar sekunder. Untuk itu Security House (perantara) akan membeli atau menjual SBI setiap hari dengan tingkat diskonto yang berlaku di pasar. Untuk memperlancar perdagangan SBI ini Bank Sentral Indonesia menunjukkan beberapa market dan broker yang terdiri dari Bank-bank Umum sebagai lembaga penunjang dalam perdagangan SBI. Market maker disini bertindak sebagai penggerak pasar sekunder. Dalam hal ini market maker bertindak sebagai dealer yang berkewajiban sbb:
• Membuat dan mengumumkan quotation.
• Secara aktif mengajukan penawaran dan permintaan SBI di pasar sekunder.
• Membeli dan menjual SBI dari dan kepada pihak yang mencari dan menawarkan SBI di pasar sekunder. Pembelian dan penjualan SBI dapat dilakukan baik secara outright maupun repo. (Transaksi outright adalah transaksi jual beli SBI atas dasar sisa jangka waktu SBI yang bersangkutan, tidak ada kewajiban bagi penjual untuk membeli kembali sebelum jatuh tempo; sedangkan transaksi repo adalah transaksi dengan perjanjian bahwa penjual wajib membeli kembali SBI yang bersangkutan sesuai jangka waktu yang dijanjikan).
Surat Berharga Pasar Uang (SBPU)
SBPU adalah surat-surat berharga berjangka pendek yang dapat diperjualbelikan secara diskonto dengan Bank Indonesia atau lembaga diskonto yang ditunjuk oleh Bank Indonesia.
SBPU sama halnya dengan SBI merupakan instrumen operasi pasar terbuka dalam rangka ekspansi moneter oleh BI dengan menetapkan tingkat diskonto SBPU.
Ditinjau dari jenis transaksi dan warkatnya, SBPU dapat dibedakan sbb:
a. Surat Sanggup (aksep/promes), dapat berupa:
• Surat sanggup yang diterbitkan oleh nasabah dalam rangka penerimaan kredit dari bank untuk membiayai kegiatan tertentu.
• Surat sanggup yang diterbitkan oleh bank dalam rangka pinjaman antar bank.
b. Surat wesel, dapat berupa:
• Surat wesel yang ditarik oleh suatu pihak dan diaksep oleh pihak lain dalam rangka transaksi tertentu. Penarik dan atau tertarik adalah nasabah bank.
• Surat wesel yang ditarik oleh nasabah bank dan diaksep oleh bank dalam rangka pemberian kredit untuk membiayai kegiatan tertentu.
Mekanisme perdagangan SBPU adalah dunia usaha atau masyarakat yang merupakan nasabah berbentuk badan usaha maupun perorangan meneluarkan surat aksep atau wesel (sebagai surat utang) untuk mendapatkan dana dari Bank atau LKBB (Lembaga Keuangan bukan Bank). Kemudian SBPU dijualbelikan oleh Bank dan LKBB melalui security house (perantara) maupun melalui pasar sekunder, yaitu diperjualbelikan antara lembaga-lembaga keuangan itu sendiri serta dunia usaha atau masyarakat. SBPU ini melalui security house juga bisa dijualbelikan ke Bank Sentral Indonesia.
Call Money (Interbank Call Money Market)
• Call Money adalah penempatan atau peminjaman dana jangka pendek (dalam hitungan hari) antar bank.
• Call Money merupakan instrument bank dalam mengatasi kekurangan atau kelebihan dana jangka pendek yang bersifat sementara.
PERANAN BANK
Mendorong pertumbuhan perekonomian suatu negara karena:
1. Sebagai pengumpul dana dari Surplus Spending Unit (SSU) dan penyalur kredit kepada Defisit Spending Unit (DSU)
2. Tempat menabung yang efektif dan produktif
3. Pelaksana dan memperlancar lalu lintas pembayaran praktis, aman dan ekonomis
4. Penjamin penyelesaian perdagangan dengan penerbitan L/C
5. Penjamin penyelesaian proyek dengan menerbitkan bank garansi
RUANG LINGKUP KEGIATAN MANAJEMEN DANA BANK
1. Segala aktivitas dalam rangka penghimpunan dana masyarakat
• Berupa ajakan atau promosi yang bertujuan menghimpun dana dari masyarakat.
• Sebagai lembaga perantara, falsafah yang mendasari kegiatan usaha bank adalah kepercayaan masyarakat.
1. Aktivitas untuk menjaga kepercayaan masyarakat
Ciri-ciri sebagai lembaga kepercayaan masyarakat:
1.
o Dalam menerima simpanan dari SSU, bank hanya memberikan pernyataan tertulis yang menjelaskan bahwa bank telah menerima simpanan dalam jumlah dan untuk jangka waktu tertentu.
o Dalam menyalurkan dana kepada DSU, bank tidak selalu meminta agunan berupa barang sebagai jaminan atas pemebrian kredit yang diberikan kepada DSU yang memiliki reputasi baik.
o Dalam melaksanakan kegiatannya bank lebih banyak menggunakan dana dari masyarakat yang terkumpul dalam banknya dibandingkan dengan modal dari pemilik atau pemegang saham.
1. 3. Penempatan dana dalam bentuk kredit
• Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga/imbalan atau bagi hasil
Unsur-unsur Kredit/ Pembiayaan
• Kepercayaan
• Kesepakatan
• Jangka waktu
• Resiko
• Balas Jasa
MANAJEMEN DANA
• PRINSIP MANAJEMEN DANA
Alokasi penggunaan dana bank dilihat dari segi akuntansi terletak di sisi Aktiva atau Asset dengan struktur rekening-rekening neraca yang tertentu uang umumnya berdasarkan likuiditasnya. Total dana yang tersedia terdiri dari 2 jenis, yaitu Unloanable Fund dan Loanable Fund. Unloanable fund terdiri dari legal reserve requirement yang ditetapkan oleh otoritas moneter (BI) sebesar minimal …% dari total deposit, jumlah kas minimal yang harus tersedia untuk melayani penarikan dana oleh nasabah, Working Capital atau cadangan operasional lainnya.
Loanable Fund dapat diklasifikasikan menjadi Idle Fund dan Operable Fund. Idle Fund adalah dana yang masih menganggur atau belum digunakan pada alokasi yang produktif bagi Bank sedangkan Operable Fund adalah dana yang sudah dioperasikan oleh Bank terutama dalam bentuk kredit yang diberikan pada debitur. Bank selalu berusaha meminimalkan idle fund atau memperbesar operable fund untuk mengoptimalkan keuntungan.
Klasifikasi penggunaan dana ini sangat diperlukan untuk menghitung biaya dana yang harus dikeluarkan Bank (Cost of Fund) yang terdiri dari beberapa cara perhitungan. Berdasarkan Cost Of Fund ini Bank bisa menetapkan harga produk Banknya dengan memperhitungakan interest spead yang diinginkan.
Penggunaan Dana Bank harus memperhatikan waktu pengendapan dana tersebut untuk menjamin likuiditas Bank.
Prinsip penggunaan dana tersebut adalah:
1. Sumber dana jangka pendek digunakan untuk investasi jangka pendek
2. Sumber dana jangka panjang digunakan untuk investasi jangka panjang
Untuk menentukan besar kecilnya buku bunga pinjaman, atau dapat dikatakan sebagai harga produk, yang akan dibebankan kepada nasabah terdapat beberapa komponen yang akan mempengaruhinya. Komponen-komponen tersebut adalah :
1. Total Biaya Dana (Cosh Of Fund)
Merupakan biaya untuk memperoleh simpanana setelah ditambah dengan cadangan wajib (reserve requirement) yang ditetapkan pemerintah. Biaya dana tergantung dari seberapa besar bunga yang ditetapkan utnuk memperoleh dana melalui produk simpanan.
2. Laba yang diinginkan
Menentukan besarnya laba juga sangat mempengaruhi besarnya suku bunga kredit. Dalam hal ini biasanya bank melihat kondisi pesaing dan juga kondisi nasabah (usaha kecil atau besar)
3. Cadangan Resiko kresit macet
Merupakan cadangan terhadap kredit yang macet atas akibat dari suatu hal baik disengaja maupun tidak disengaja. Pihak bank juga memperhitungkan hal tersebut.
4. Biaya Operasi
Merupakan biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam rangka melaksanakan kegiatan operasinya.
5. Pajak
Merupakan pajak yang dibebankan oleh pemerintah kepada bank yang memberikan fasiltas kredit kepada nasabahnya.
Pengertian Pemasaran
Kegiatan pemasaran (marketing) sangat menyentuh setiap
kehidupan manusia. Melalui sarana pemasaran (marketing), produk dan
jasa yang menciptakan standard hidup dikembangkan dan disuguhkan
kepada masyarakat. Marketing mencakup banyak kegiatan, mulai dari riset
pemasaran, pengembangan produk, distribusi, periklanan, dan kegiatan
pemasaran lainnya. Pemasaran memadukan beberapa kegiatan yang
dirancang untuk melayani dan memenuhi kebutuhan konsumen dalam
upaya mencapai tujuan perusahaan. Keberhasilan perusahaan pada
dasarnya adalah keberhasilan dalam pemasarannya.
Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang di
dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan
dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan
produk yang bernilai dengan pihak lain. Pengertian tersebut bersandar
pada konsep inti pemasaran, yang meliputi: kebutuhan (needs), keinginan
(wants) dan permintaan (demands); produk (barang, jasa, dan gagasan);
nilai, biaya, dan kepuasan; pertukaran dan transaksi; hubungan dan
jaringan; pasar; serta pemasar dan prospek. Manajemen pemasaran
adalah penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan
program-program yang bertujuan menimbulkan pertukaran dengan pasar
yang dituju dengan maksud untuk mencapai tujuan perusahaan.
Tujuan akhir pemasaran berhubungan erat dengan tujuan
perusahaan secara keseluruhan. Untuk mencapai tujuannya, pihak
perusahaan menitikberatkan kepada kepuasan pelanggan, memenuhi
kebutuhan dan keinginan pelanggan, menyediakan barang atau jasa,
distribusi, diferensiasi produk, dan lain sebagainya. Karakteristik yang
mempengaruhi perilaku pelanggan secara garis besar dibedakan menjadi
dua yaitu karakteristik secara khusus berkaitan dengan faktor internal dan
factor eksternal. Faktor internal mencakup: gengsi dan pengakuan,
persepsi, motivasi, kepribadian dan emosi. Faktor eksternal mencakup:
demografi dan gaya hidup, budaya, subkultur, kelas sosial, referensi group
dan keluarga, serta faktor strategi marketing. Karakteristik secara umum
antara lain: jenis kelamin, usia/umur, agama/kepercayaan, budaya,
pendidikan, dan pendapatan.
Secara formal, pasar adalah suatu institusi atau badan yang
menjalankan aktivitas jual-beli barang dan jasa. Pada pasar tersebut
produsen dan konsumen bertemu dan berkominukasi. Melalui mekanisme
pasar produsen mengajukan penawaran (supply) atas produknya dan
melalui mekanisme pasar pula konsumen mengajukan permintaan
(demand). Pengertian pasar dapat diperluas lagi menjadi pasar konkrit dan
pasar abstrak. Pasar konkrit adalah suatu tempat yang tertentu dimana
penjual dam pembeli bertemu untuk saling menawar. Pasar abstrak ialah
setiap kegiatan pertemuan dimanapun baik langsung maupun tidak
langsung yang turut menentukan terjadinya harga. Mengingat luasnya
ruang lingk up pasar, maka pembagian pasar didasarkan atas berbagai
ukuran sebagai berikut: (1) berdasarkan ukuran luas geografis: pasar lokal,
pasar regional, pasar internasional; (2) berdasarkan ukuran waktu: pasar
harian, pasar jangka pendek (short run market), pasar jangka panjang (long
run market); (3) berdasarkan kegiatannya: pasar barang, pasar tenaga.
Bagi perusahaan memahami pasar sangatlah penting karena tanpa adanya
pasar, produk tidak akan sampai ke tangan konsumen.
Segmentasi pasar adalah pembagian suatu pasar yang heterogen
kedalam satuan-satuan pembeli yang homogen, dimana kepada setiap
satuan pembeli yang homogen tersebut dijadikan sasaran pasar yang
dicapai dengan marketing mix tersendiri. Maksud dan tujuan segmentasi
pasar ialah pasar lebih mudah dibedakan; pelayanan kepada pembeli
menjadi lebih baik; strategi pemasaran menjadi lebih mengarah.
Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan
produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan, atau
dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar
yang bersangkutan. Produk yang ditawarkan tersebut meliputi barang fisik,
jasa, orang atau pribadi, tempat, organisasi, dan ide. Produk memiliki 5
tingkatan/level yang terdiri dari: produk utama/inti (core benefit), produk
generik, harapan (expected product), produk pelengkap (augmented
product), dan produk potensial. Selain tingkatan/level, produk juga memiliki
suatu hirarki yang meliputi: need family, produk family, kelas produk
(product class), lini produk (product line), tipe produk (product type), merek
(brand), dan item. Klasifikasi produk bisa dilakukan atas berbagai macam
sudut pandang. Berdasarkan berwujud tidaknya, produk dapat
diklasifikasikan ke dalam dua kelompok utama, yaitu: (1) barang yang
terdiri dari barang tidak tahan lama dan barang tahan lama; dan (2) jasa.
Selain berdasarkan daya tahannya, produk umumnya juga diklasifikasikan
berdasarkan siapa konsumennya dan untuk apa produk tersebut
dikonsumsi. Berdasarkan kriteria ini, produk dapat dibedakan menjadi
barang konsumen (consumer’s goods) yang meliputi convenience goods,
shopping goods, specialty goods, dan unsought goods; dan barang industri
(industrial’s goods) yang meliputi materials and parts, capital items, dan
supplies and services.
Harga adalah sejumlah uang yang ditentukan perusahaan
berdasarkan kalkulasi biaya yang dikeluarkan seperti biaya produksi atau
biaya mendapatkan produk, biaya marketing, biaya operasional,
keuntungan yang diinginkan perusahaan dan sesuatu yang lain yang
diadakan perusahaan untuk memuaskan keinginan konsumen. Dalam
dunia bisnis harga mempunyai banyak nama, sebagai contoh dalam dunia
perdagangan produk disebut harga, dalam dunia perbankan disebut bunga,
dalam bisnis jasa akuntansi, konsultan disebut fee, biaya transportasi taxi,
biaya telepon disebut tarif, sedangkan dalam dunia asuransi disebut premi.
Tujuan penetapan harga adalah memaksimalkan penjualan dan penetrasi
pasar; mempertahankan kualitas atau diferensiasi pelayanan; mendapatkan
atau memaksimalkan keuntungan; mendapatkan atau merebut pangsa
pasar; menjaga kelangsungan hidup kegiatan operasional; balik modal ROI
/ Return On Investment.
Secara garis besar, pendistribusian dapat diartikan sebagai
kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah
penyampaian barang dan jasa dari produsen kepada konsumen, sehingga
penggunaannya sesuai dengan yang diperlukan (jenis, jumlah, harga,
tempat, dan saat dibutuhkan). Distribusi barang dibedakan antara saluran
untuk memindahkan hak kepemilikan barang, dan saluran untuk
memindahkan barang secara fisik. Jika yang pertama berhubungan dengan
saluran distribusi (channel of distribution), maka yang kedua merupakan
kegiatan-kegiatan yang disebut distribusi fisik (physical distribution).
Distribusi fisik adalah segala kegiatan untuk memindahkan barang dalam
kuantitas tertentu, ke suatu tempat tertentu, dan dalam jangka waktu
tertentu. Fungsi-fungsi dalam distribusi fisik meliputi: transportation, storage
dan warehousing, inventory central, material handling, border processing,
dan protective packaging. Perusahaan-perusahaan yang membantu dalam
proses distribusi fisik disebut facilitator atau facilitating agencies. Facilitator
ini dapat meliputi perusahaan transportasi, perusahaan asuransi,
perusahaan yang menyewakan gudang (public and private warehouse),
perusahaan pembiayaan, dan sebagainya. Perlu diperhatikan bahwa
facilitator bukanlah anggota di dalam suatu saluran distribusi.
Pemasaran modern memerlukan lebih dari sekedar
mengembangkan produk yang baik, menawarkannya dengan harga yang
menarik, dan membuatnya mudah didapat oleh pelanggan sasaran.
Perusahaan harus juga berkomunikasi dengan para pelanggan yang ada
sekarang dan pelanggan potensial, pengecer, pemasok, pihak-pihak yang
memiliki kepentingan pada perusahaan tersebut, dan masyarakat umum.
Salah satu keputusan pemasaran tersulit yang dibadapi oleh perusahaanperusahaan adalah berapa besar yang perlu dibelanjakan untuk promosi.
Tedapat empat metode utama digunakan dalam menyusun anggaran
promosi. Pertama, metode sesuai kemampuan (affordable method) yaitu
menetapkan anggaran promosi berdasarkan kemampuan perusahaan.
Kedua, metode persentase penjualan (percentage-of-sales method) yaitu
menetapkan pengeluaran promosinya berdasarkan persentase tertentu dari
penjualan (baik penjualan saat ini maupun yang diantisipasi) atau dari
harga jual. Ketiga, metode keseimbangan-persaingan (competitive-parity
method) yaitu menetapkan anggaran promosi untuk mencapai
keseimbangan pangsa suara dengan para pesaing. Dan yang terakhir
adalah metode tujuan-dan-tugas (objective-and-task method) yaitu
mengembangkan anggaran promosi dengan mendefinisikan tujuan spesifik,
menentukan tugas-tugas yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan
tersebut, dan memperkirakan biaya untuk melaksanakan tugas-tugas
tersebut. Perusahaan harus mendistribusikan total anggaran promosi untuk
lima alat promosi yang meliputi periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas, wiraniaga, dan pemasaran langsung. Promosi
berkaitan dengan upaya untuk mengarahkan seseorang agar dapat
mengenal produk perusahaan, lalu memahaminya, berubah sikap,
menyukai, yakin, kemudian akhirnya membeli dan selalu ingat akan produk
tersebut. Tujuan utama dari promosi adalah menginformasikan,
mempengaruhi dan membujuk, serta mengingatkan pelanggan sasaran
tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. Secara umum bentuk
bentuk promosi memiliki fungsi yang sama, tetapi bentuk-bentuk tersebut
dapat dibedakan berdasarkan tugas-tugas khususnya. Beberapa tugas
khusus itu atau sering disebut bauran promosi (promotion mix, promotion
blend, communication mix) meliputi: Personal selling, Mass selling, Promosi
penjualan, Public relations (hubungan masyarakat), Direct marketing. Untuk
mencapai tujuan dari promosi diperlukan strateg promosi dimana strategi
promosi berkaitan dengan masalah-masalah perencanaan, pelaksanaan,
dan pengendalian komunikasi persuasif dengan pelanggan. Faktor-faktor
yang mempengaruhi bauran promosi meliputi: faktor produk, faktor pasar,
faktor pelanggan, faktor anggaran, faktor bauran pemasaran.
Perencanaan pemasaran (marketing planning) adalah suatu bagan
dari suatu desain untuk mencapai suatu tujuan. Tujuannya adalah untuk
menciptakan nilai bagi konsumen dalam kondisi tetap menguntungkan
perusahaan, atau dalam konsep pemasaran saat ini, suatu hubungan yang
saling menguntungkan. Hal ini membawa kita pada titik awal dalam
perencanaan pemasaran suatu pemahaman atas perbedaan antara strategi
dan taktik. Strategi (strategy) menjelaskan arah yang akan dituju
perusahaan dan menuntun pengalokasian sumber daya dan upaya. Taktik
(tactics) adalah tindakan jangka pendek yang dilakukan untuk menerapkan
strategi yang lebih luas. Suatu rencana strategis harus berisikan beberapa
hal sebagai berikut: Pernyataan misi, Ringkasan keuangan yang berisikan
pendapatan, biaya, aliran uang, dan laba yang harus dicapai pada periode
yang direncanakan. Ringkasan faktor-faktor eksternal utama yang
mempengaruhi kinerja pemasaran perusahaan selama tahun sebelumnya
bersama dengan suatu pernyataan kekuatan dan kelemahan perusahaan
dalam persaingan yang dihadapi. Ini disebut dengan analisis SWOT
(strengths, weakness, opportunities, threats), Daftar asumsi-asumsi tentang
penentu utama keberhasilan dan kegagalan pemasaran, Tujuan dan
strategi pemasaran keseluruhan. Strategi untuk menciptakan sumber daya
yang dibutuhkan untuk menerapkan program penciptaan nilai bagi
konsumen. Program pemasaran yang berisikan rincian waktu, tanggung
jawab, dan biaya-biaya disamping peramalan penjualan anggaran.
Sedangkan komponen perencanaan pemasaran meliputi: Ringkasan
eksekutif, Situasi pemasaran saat ini yang terdiri dari: situasi pasar, situasi
produk, situasi pesaing, situasi lingkungan makro, analisis
peluang/ancaman, analisis kekuatan/kelemahan, analisis masalah. Sasaran
yang terdiri dari: sasaran keuangan, sasaran pemasaran. Strategi
pemasaran, Program kerja, Proyeksi rugi laba, dan Pengawasan.
kehidupan manusia. Melalui sarana pemasaran (marketing), produk dan
jasa yang menciptakan standard hidup dikembangkan dan disuguhkan
kepada masyarakat. Marketing mencakup banyak kegiatan, mulai dari riset
pemasaran, pengembangan produk, distribusi, periklanan, dan kegiatan
pemasaran lainnya. Pemasaran memadukan beberapa kegiatan yang
dirancang untuk melayani dan memenuhi kebutuhan konsumen dalam
upaya mencapai tujuan perusahaan. Keberhasilan perusahaan pada
dasarnya adalah keberhasilan dalam pemasarannya.
Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang di
dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan
dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan
produk yang bernilai dengan pihak lain. Pengertian tersebut bersandar
pada konsep inti pemasaran, yang meliputi: kebutuhan (needs), keinginan
(wants) dan permintaan (demands); produk (barang, jasa, dan gagasan);
nilai, biaya, dan kepuasan; pertukaran dan transaksi; hubungan dan
jaringan; pasar; serta pemasar dan prospek. Manajemen pemasaran
adalah penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan
program-program yang bertujuan menimbulkan pertukaran dengan pasar
yang dituju dengan maksud untuk mencapai tujuan perusahaan.
Tujuan akhir pemasaran berhubungan erat dengan tujuan
perusahaan secara keseluruhan. Untuk mencapai tujuannya, pihak
perusahaan menitikberatkan kepada kepuasan pelanggan, memenuhi
kebutuhan dan keinginan pelanggan, menyediakan barang atau jasa,
distribusi, diferensiasi produk, dan lain sebagainya. Karakteristik yang
mempengaruhi perilaku pelanggan secara garis besar dibedakan menjadi
dua yaitu karakteristik secara khusus berkaitan dengan faktor internal dan
factor eksternal. Faktor internal mencakup: gengsi dan pengakuan,
persepsi, motivasi, kepribadian dan emosi. Faktor eksternal mencakup:
demografi dan gaya hidup, budaya, subkultur, kelas sosial, referensi group
dan keluarga, serta faktor strategi marketing. Karakteristik secara umum
antara lain: jenis kelamin, usia/umur, agama/kepercayaan, budaya,
pendidikan, dan pendapatan.
Secara formal, pasar adalah suatu institusi atau badan yang
menjalankan aktivitas jual-beli barang dan jasa. Pada pasar tersebut
produsen dan konsumen bertemu dan berkominukasi. Melalui mekanisme
pasar produsen mengajukan penawaran (supply) atas produknya dan
melalui mekanisme pasar pula konsumen mengajukan permintaan
(demand). Pengertian pasar dapat diperluas lagi menjadi pasar konkrit dan
pasar abstrak. Pasar konkrit adalah suatu tempat yang tertentu dimana
penjual dam pembeli bertemu untuk saling menawar. Pasar abstrak ialah
setiap kegiatan pertemuan dimanapun baik langsung maupun tidak
langsung yang turut menentukan terjadinya harga. Mengingat luasnya
ruang lingk up pasar, maka pembagian pasar didasarkan atas berbagai
ukuran sebagai berikut: (1) berdasarkan ukuran luas geografis: pasar lokal,
pasar regional, pasar internasional; (2) berdasarkan ukuran waktu: pasar
harian, pasar jangka pendek (short run market), pasar jangka panjang (long
run market); (3) berdasarkan kegiatannya: pasar barang, pasar tenaga.
Bagi perusahaan memahami pasar sangatlah penting karena tanpa adanya
pasar, produk tidak akan sampai ke tangan konsumen.
Segmentasi pasar adalah pembagian suatu pasar yang heterogen
kedalam satuan-satuan pembeli yang homogen, dimana kepada setiap
satuan pembeli yang homogen tersebut dijadikan sasaran pasar yang
dicapai dengan marketing mix tersendiri. Maksud dan tujuan segmentasi
pasar ialah pasar lebih mudah dibedakan; pelayanan kepada pembeli
menjadi lebih baik; strategi pemasaran menjadi lebih mengarah.
Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan
produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan, atau
dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar
yang bersangkutan. Produk yang ditawarkan tersebut meliputi barang fisik,
jasa, orang atau pribadi, tempat, organisasi, dan ide. Produk memiliki 5
tingkatan/level yang terdiri dari: produk utama/inti (core benefit), produk
generik, harapan (expected product), produk pelengkap (augmented
product), dan produk potensial. Selain tingkatan/level, produk juga memiliki
suatu hirarki yang meliputi: need family, produk family, kelas produk
(product class), lini produk (product line), tipe produk (product type), merek
(brand), dan item. Klasifikasi produk bisa dilakukan atas berbagai macam
sudut pandang. Berdasarkan berwujud tidaknya, produk dapat
diklasifikasikan ke dalam dua kelompok utama, yaitu: (1) barang yang
terdiri dari barang tidak tahan lama dan barang tahan lama; dan (2) jasa.
Selain berdasarkan daya tahannya, produk umumnya juga diklasifikasikan
berdasarkan siapa konsumennya dan untuk apa produk tersebut
dikonsumsi. Berdasarkan kriteria ini, produk dapat dibedakan menjadi
barang konsumen (consumer’s goods) yang meliputi convenience goods,
shopping goods, specialty goods, dan unsought goods; dan barang industri
(industrial’s goods) yang meliputi materials and parts, capital items, dan
supplies and services.
Harga adalah sejumlah uang yang ditentukan perusahaan
berdasarkan kalkulasi biaya yang dikeluarkan seperti biaya produksi atau
biaya mendapatkan produk, biaya marketing, biaya operasional,
keuntungan yang diinginkan perusahaan dan sesuatu yang lain yang
diadakan perusahaan untuk memuaskan keinginan konsumen. Dalam
dunia bisnis harga mempunyai banyak nama, sebagai contoh dalam dunia
perdagangan produk disebut harga, dalam dunia perbankan disebut bunga,
dalam bisnis jasa akuntansi, konsultan disebut fee, biaya transportasi taxi,
biaya telepon disebut tarif, sedangkan dalam dunia asuransi disebut premi.
Tujuan penetapan harga adalah memaksimalkan penjualan dan penetrasi
pasar; mempertahankan kualitas atau diferensiasi pelayanan; mendapatkan
atau memaksimalkan keuntungan; mendapatkan atau merebut pangsa
pasar; menjaga kelangsungan hidup kegiatan operasional; balik modal ROI
/ Return On Investment.
Secara garis besar, pendistribusian dapat diartikan sebagai
kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah
penyampaian barang dan jasa dari produsen kepada konsumen, sehingga
penggunaannya sesuai dengan yang diperlukan (jenis, jumlah, harga,
tempat, dan saat dibutuhkan). Distribusi barang dibedakan antara saluran
untuk memindahkan hak kepemilikan barang, dan saluran untuk
memindahkan barang secara fisik. Jika yang pertama berhubungan dengan
saluran distribusi (channel of distribution), maka yang kedua merupakan
kegiatan-kegiatan yang disebut distribusi fisik (physical distribution).
Distribusi fisik adalah segala kegiatan untuk memindahkan barang dalam
kuantitas tertentu, ke suatu tempat tertentu, dan dalam jangka waktu
tertentu. Fungsi-fungsi dalam distribusi fisik meliputi: transportation, storage
dan warehousing, inventory central, material handling, border processing,
dan protective packaging. Perusahaan-perusahaan yang membantu dalam
proses distribusi fisik disebut facilitator atau facilitating agencies. Facilitator
ini dapat meliputi perusahaan transportasi, perusahaan asuransi,
perusahaan yang menyewakan gudang (public and private warehouse),
perusahaan pembiayaan, dan sebagainya. Perlu diperhatikan bahwa
facilitator bukanlah anggota di dalam suatu saluran distribusi.
Pemasaran modern memerlukan lebih dari sekedar
mengembangkan produk yang baik, menawarkannya dengan harga yang
menarik, dan membuatnya mudah didapat oleh pelanggan sasaran.
Perusahaan harus juga berkomunikasi dengan para pelanggan yang ada
sekarang dan pelanggan potensial, pengecer, pemasok, pihak-pihak yang
memiliki kepentingan pada perusahaan tersebut, dan masyarakat umum.
Salah satu keputusan pemasaran tersulit yang dibadapi oleh perusahaanperusahaan adalah berapa besar yang perlu dibelanjakan untuk promosi.
Tedapat empat metode utama digunakan dalam menyusun anggaran
promosi. Pertama, metode sesuai kemampuan (affordable method) yaitu
menetapkan anggaran promosi berdasarkan kemampuan perusahaan.
Kedua, metode persentase penjualan (percentage-of-sales method) yaitu
menetapkan pengeluaran promosinya berdasarkan persentase tertentu dari
penjualan (baik penjualan saat ini maupun yang diantisipasi) atau dari
harga jual. Ketiga, metode keseimbangan-persaingan (competitive-parity
method) yaitu menetapkan anggaran promosi untuk mencapai
keseimbangan pangsa suara dengan para pesaing. Dan yang terakhir
adalah metode tujuan-dan-tugas (objective-and-task method) yaitu
mengembangkan anggaran promosi dengan mendefinisikan tujuan spesifik,
menentukan tugas-tugas yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan
tersebut, dan memperkirakan biaya untuk melaksanakan tugas-tugas
tersebut. Perusahaan harus mendistribusikan total anggaran promosi untuk
lima alat promosi yang meliputi periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas, wiraniaga, dan pemasaran langsung. Promosi
berkaitan dengan upaya untuk mengarahkan seseorang agar dapat
mengenal produk perusahaan, lalu memahaminya, berubah sikap,
menyukai, yakin, kemudian akhirnya membeli dan selalu ingat akan produk
tersebut. Tujuan utama dari promosi adalah menginformasikan,
mempengaruhi dan membujuk, serta mengingatkan pelanggan sasaran
tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. Secara umum bentuk
bentuk promosi memiliki fungsi yang sama, tetapi bentuk-bentuk tersebut
dapat dibedakan berdasarkan tugas-tugas khususnya. Beberapa tugas
khusus itu atau sering disebut bauran promosi (promotion mix, promotion
blend, communication mix) meliputi: Personal selling, Mass selling, Promosi
penjualan, Public relations (hubungan masyarakat), Direct marketing. Untuk
mencapai tujuan dari promosi diperlukan strateg promosi dimana strategi
promosi berkaitan dengan masalah-masalah perencanaan, pelaksanaan,
dan pengendalian komunikasi persuasif dengan pelanggan. Faktor-faktor
yang mempengaruhi bauran promosi meliputi: faktor produk, faktor pasar,
faktor pelanggan, faktor anggaran, faktor bauran pemasaran.
Perencanaan pemasaran (marketing planning) adalah suatu bagan
dari suatu desain untuk mencapai suatu tujuan. Tujuannya adalah untuk
menciptakan nilai bagi konsumen dalam kondisi tetap menguntungkan
perusahaan, atau dalam konsep pemasaran saat ini, suatu hubungan yang
saling menguntungkan. Hal ini membawa kita pada titik awal dalam
perencanaan pemasaran suatu pemahaman atas perbedaan antara strategi
dan taktik. Strategi (strategy) menjelaskan arah yang akan dituju
perusahaan dan menuntun pengalokasian sumber daya dan upaya. Taktik
(tactics) adalah tindakan jangka pendek yang dilakukan untuk menerapkan
strategi yang lebih luas. Suatu rencana strategis harus berisikan beberapa
hal sebagai berikut: Pernyataan misi, Ringkasan keuangan yang berisikan
pendapatan, biaya, aliran uang, dan laba yang harus dicapai pada periode
yang direncanakan. Ringkasan faktor-faktor eksternal utama yang
mempengaruhi kinerja pemasaran perusahaan selama tahun sebelumnya
bersama dengan suatu pernyataan kekuatan dan kelemahan perusahaan
dalam persaingan yang dihadapi. Ini disebut dengan analisis SWOT
(strengths, weakness, opportunities, threats), Daftar asumsi-asumsi tentang
penentu utama keberhasilan dan kegagalan pemasaran, Tujuan dan
strategi pemasaran keseluruhan. Strategi untuk menciptakan sumber daya
yang dibutuhkan untuk menerapkan program penciptaan nilai bagi
konsumen. Program pemasaran yang berisikan rincian waktu, tanggung
jawab, dan biaya-biaya disamping peramalan penjualan anggaran.
Sedangkan komponen perencanaan pemasaran meliputi: Ringkasan
eksekutif, Situasi pemasaran saat ini yang terdiri dari: situasi pasar, situasi
produk, situasi pesaing, situasi lingkungan makro, analisis
peluang/ancaman, analisis kekuatan/kelemahan, analisis masalah. Sasaran
yang terdiri dari: sasaran keuangan, sasaran pemasaran. Strategi
pemasaran, Program kerja, Proyeksi rugi laba, dan Pengawasan.
Langganan:
Postingan (Atom)
