Senin, 24 Mei 2010

Indonesia Kenalkan Sate di Norwegia

KBRI Oslo melancarkan diplomasi kuliner dengan memperkenalkan sate pada Festival Makanan Internasional Lofoten yang pertama kali diselenggarakan di kota Svolvaer, Norwegia. Festival yang berlangsung akhir pekan lalu itu diikuti berbagai produsen makanan lokal maupun internasional, ujar Sekretaris Tiga KBRI Oslo Febby Fahrani kepada Antara di London, Minggu.

Selain sate ayam, paviliun Indonesia juga menyajikan, sate kambing, lumpia, rempeyek, dan keripik pisang. Selain memenuhi undangan dari walikota setempat, Indonesia menggunakan ajang itu untuk memperkenalkan sebagian jenis makanan tradisional Indonesia kepada masyarakat Lofoten dan Norwegia.

Selama festival, animo pengunjung untuk mendatangi paviliun Indonesia dan mencicipi makanan yang disajikan tergolong tinggi. Para pengunjung sampai antri untuk mencicipi sate yang baru selesai dibakar dan mengundang keinginantahu pengunjung lainnya, sehingga antrian bertambah panjang.

Penggunaan anglo (tungku) tradisional dan kipas anyaman bambu untuk membakar sate juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang minta mengipas atau sekedar berfoto bersama di samping anglo.

Indonesia di World Expo 2010, Shanghai

Sejak dibuka untuk umum pada 1 Mei lalu, paviliun Indonesia di World Expo 2010 Shanghai, China, sudah dikunjungi oleh hampir setengah juta pengunjung. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, jumlah ini terhitung sampai 19 Mei 2010. Tepatnya berjumlah 493.381 orang.

“Waktu kami hit pada angka 400.000, paviliun Amerika Serikat itu pengunjungnya 500.000. Tidak jauhlah berbeda pengunjungnya. Dari semua pengunjung, kami berhasil menggaet 10 persen dari total yang datang,” ungkapnya.

Mari mengatakan, berarti rata-rata pengunjung tiap harinya mencapai 25.000 orang. Dengan demikian, target 3 juta pengunjung hingga akhir pameran pada 31 Oktober mendatang dapat terlampaui. Paviliun Indonesia dalam pameran ini mengambil tema “Indonesia Biodiverse City”.

Dengan maskot Koko “The Komodo” dan Pongo “The Orangutan”, paviliun menampilkan kekayaan alam dan budaya Indonesia. Penampilan Indonesia dikelompokkan menjadi empat zona, yaitu zona bio yang menampilkan kekayaan alam, zona tani, zona kota, dan zona musik. Setiap hari pun Indonesia menampilkan cultural performance.

Komodo dan Borobudur

Mari mengatakan, bagian yang sangat berkesan bagi pengunjung adalah Pojok Dukungan Taman Nasional Komodo dan Borobudur Megawall. Selain dapat memperoleh keterangan menarik tentang komodo, di Pojok Dukungan Komodo, pengunjung dapat memberikan dukungannya langsung kepada komodo untuk menjadi salah satu keajaiban dunia.

“Banyak yang antre di pojok komodo. Ada layar untuk mendukungnya sebagai salah satu keajaiban dunia. Dari pengunjung di sana sudah 31.600 orang yang sudah sign-up,” tuturnya.

Sementara itu, di area Borobudur Megawall yang terdapat miniatur tembok Borobudur dan stupa, pengunjung dapat melihat ukiran tembok seperti aslinya dan juga memasukkan tangan ke stupa seperti yang biasa dilakukan pengunjung Candi Borobudur.

“Selain itu, ada yang unik. Di dekat sini ada orang yang menaruh koin. Lalu, orang yang kemudian lewat juga lanjut memberi koin. Sampai sekarang terkumpul sampai RMB 8.000 atau sekitar 1.000 dollar AS. Akan kami gunakan untuk charity,” ungkapnya.

Mari menegaskan, pameran ini tidak mengarahkan tujuan langsung ke kontrak perdagangan, tetapi lebih pada upaya mengangkat citra Indonesia di mata dunia internasional. Namun, Mari berharap hal ini dapat terwujud melalui forum bisnis mulai 9 Juni hingga akhir Juli mendatang.

Siswa Madiun Raih Emas Olimpiade Internasional

iswa SMAN 5 Kota Madiun yang mengikuti olimpiade internasional tingkat pelajar usia 13-18 tahun, International Environmental Project Olympiad (Inepo) 2010 di Kota Istanbul, Turki, 19-22 Mei kemarin, berhasil meraih emas. Inepo 2010 ini diikuti 106 finalis dari 45 negara.

Dua siswa SMAN 5 Kota Madiun yang berhasil mengharumkan nama bangsa di ajang internasional itu adalah Nina Milasari, 17 tahun, siswa kelas XI IPA dan Christina Kartika Bintang Dewi, 15 tahun, siswa kelas X. “Siswa SMAN 5 Kota Madiun berhasil meraih emas untuk ketegori Fisika,” jelas Imam Zuhri, guru pendamping dua siswa ini.

Dalam olimpiade tersebut, keduanya menguji hasil karya yang diberi judul The Use of Sugar Factory Dust in Making Seismic Resistant Bricks atau kegunaan limbah abu (dust) asap pabrik gula dalam pembuatan batu bata yang tahan getaran atau gempa.

Menurut Imam, dua wakil Indonesia lainnya juga mendapat emas untuk kategori Kimia yakni siswa dari SMA Semesta Bilingual Boarding School (BBS), Semarang, Jawa Tengah dan SMA Santa Laurensia, Serpong, Tangerang, Banteng. “Dari 11 emas yang diperebutkan, Indonesia dapat tiga emas, jadi tiga wakil dari Indonesia dapat emas semua. Bagi sekolah kami, ini sejarah baru,” jelasnya. Selasa nanti (25/5), Nina, Christina, dan Imam dijadwalkan sudah tiba di tanah air.

Guru pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 5 Kota Madiun, Suharlinah, mengaku bangga atas prestasi yang diraih anak didiknya. “Alhamdulillah Nina dan Christina berhasil. Ini berkat kerja keras anak-anak dan semua jajaran guru serta Komite Sekolah yang mendukung keberangkatan anak-anak ke Turki,” katanya haru.

Suharlinah adalah salah satu guru yang kerap kali mendampingi dan memberikan bimbingan selama Nina dan Christina mempersiapkan diri sebelum berangkat ke Turki. “Sebelum berangkat ke Turki, beberapa kali Nina dan Christina berlatih mengerjakan soal dan membahas kembali penemuan yang sudah diciptakan,” ujarnya.

Keberangkatan siswa SMAN 5 Kota Madiun ini memang sempat terkendala karena tidak mendapat bantuan dana dari Pemerintah Kota Madiun. Pihak Komite Sekolah akhirnya menggalang dana dari berbagai pihak baik kelembagaan maupun perorangan termasuk perusahaan swasta.

Berkat bimbingan para guru, kedua siswa SMAN 5 Kota Madiun itu berhasil menciptakan konstruksi batu bata yang dinilai tahan gempa. Inovasi teknologi mereka ini diciptakan melalui eksperimen berkali-kali yang memakan waktu sekitar satu tahun.
“Jadi kami memanfaatkan dust atau abu asap dari proses pembakaran bahan baku gula yang banyak terdapat di pabrik-pabrik gula,” jelas Nina beberapa waktu lalu sebelum berangkat ke Turki. Menurutnya, abu asap (dust) itu mengandung silikat yang tinggi.

Silikat adalah senyawa yang mengandung satu anion dengan satu atau lebih atom silikon pusat yang dikelilingi oleh ligan elektronegatif. “Silikat atau silikon dioksida (SiO2) itu memiliki daya rekat yang tinggi dan biasa digunakan untuk bahan baku pembuatan semen atau konstruksi lainnya,” katanya.

Nina mengaku awalnya mereka memanfaatkan abu asap tersebut untuk briket yang biasa dijadikan bahan untuk pembakaran. “Setelah tahu mengandung silikat yang tinggi, kami mencoba memanfaatkannya untuk pembuatan batu bata,” jelasnya.

Batu bata yang bahan bakunya dicampur dengan silikat menjadikan batu bata lebih ringan sehingga lebih tahan getaram atau gempa. “Konstruksi bahan bangunan ini cocok untuk di daerah yang rawan gempa,” tuturnya.

Garuda Raih `World’s Most Improved Airline` Skytrax

PT Garuda Indonesia meraih penghargaan “World’s Most Improved Airline” dari Skytrax, London, lembaga independen pemeringkat maskapai penerbangan dunia, menyusul berbagai pencapaian BUMN penerbangan itu dengan sejumlah program transformasi bisnisnya.

VP Corporate Communications PT Garuda Indonesia, Pujobroto menyebutkan, penghargaan tersebut diterima Direktur Niaga Garuda Indonesia Agus Priyanto dari Chairman Sky Trax, Edward Plaisted dalam acara “Skytrax 2010 World Airline Awards” di Hamburg, Jerman, Kamis (20/05).

Penghargaan itu merupakan sebuah bentuk pengakuan internasional terhadap keberhasilan Garuda Indonesia dalam melakukan transformasi perusahaan secara keseluruhan, serta berbagai kemajuan lain yang dicapai. “Posisi Garuda dinilai mereka sebagai salah satu maskapai penerbangan Asia yang paling sukses dan menguntungkan,” katanya.

Direktur Niaga Garuda Indonesia Agus Priyanto sebagaimana dikutip Pujobroto mengatakan, penghargaan ini mendukung upaya Garuda Indonesia untuk terus melakukan transformasi perusahaan agar dapat memberikan standar pelayanan tertinggi kepada para penumpang.

Titik balik keuangan Garuda Indonesia selama tiga tahun terakhir juga menjadi suatu bagian yang tidak terpisahkan dan merupakan sebuah dasar bagi Garuda Indonesia dalam upaya pelaksanaan perbaikan dan peningkatan pelayanan, dan kualitas Garuda Indonesia secara keseluruhan.

“Peluncuran kembali penerbangan jarak jauh Garuda Indonesia ke Eropa pada 1 Juni juga merupakan era baru pengembangan Garuda Indonesia ke depan,” tambah Agus Priyanto.

Sementara itu, Chairman Skytrax Edward Plaisted seperti yang dimuat dalam web resmi Sky Trax mengatakan, “Jelas bahwa proses transformasi di Garuda Indonesia telah berjalan dengan baik. Selain melaksanakan upaya memperbaharui armada dan pengenalan produk in-flight yang baru, Garuda Indonesia juga berhasil meningkatkan layanan diatas pesawat penerbangannya sehingga banyak mendapat komentar positif dari para responden survei kami.”

“Skytrax World Airline Award” merupakan parameter yang paling komprehensif dan prestisius dalam industri penerbangan dalam hal pengukuran kualitas pelayanan.

Hasil pengukuran ini didapatkan dari analisa dan studi riset terhadap lebih dari 200 maskapai penerbangan di seluruh dunia yang dilakukan pada hampir 18 juta penumpang internasional. Survei yang dilakukan oleh Skytrax ini menilai dan mengukur tingkat kepuasan pelanggan melalui 35 aspek produk dan layanan yang berbeda.

Melaju, Mobil Berbahan Bakar Singkong

Komisi Nasional Masyarakat Indonesia (KNMI) bekerja sama dengan PT Energy Karya Madani berhasil menciptakan bioetanol yang kemudian disebut Biopremium ramah lingkungan. Uniknya, bahan bakar pengganti bensin tersebut diolah dari tanaman singkong.

“Kami sudah uji coba ke 1.200 kendaraan selama beberapa bulan terakhir dan tidak ada kerusakan mesin, baik-baik saja,” ujar sang penemu yang juga Dirut PT Energy Karya Madani S Adibrata.

Menurut Kepala Bidang Ekonomi KNMI Endy Priyatna, kelebihan dari etanol berbahan singkong ini adalah kandungan alkohol atau etil etanolnya bisa mencapai 96 persen, bahkan bisa ditingkatkan hingga 99 persen. “Bisa dibandingkan dengan rata-rata kandungan alkohol pada bahan bakar yang ada sekarang, yang hanya sekitar 70 persen,” ungkapnya kepada para wartawan.

Meski dinamakan Biopremium, kualitas bioetanol ini setaraf dengan pertamax keluaran Pertamina. Hal ini sudah diuji pada mobil-mobil mewah yang memiliki cc besar. “Kemarin sudah juga dilakukan test drive dari Jakarta ke Subang dengan jarak sekitar 200 km, dan tidak ada masalah,” ujar Endy.

Selain kualitas yang tak kalah baik dengan yang dihasilkan bensin dari bahan bakar fosil, biopremium ini juga dinilai ekonomis. Menurut Endy, untuk menghasilkan satu liter etanol diperlukan enam kilogram singkong.

Harga singkong Rp 400 per kilogram. Itu berarti, satu liter etanol hanya menghabiskan Rp 2.400 ditambah ongkos produksi Rp 1.000. Total harga satu liter etanol singkong menjadi Rp 3.400. Harga ini jauh lebih murah dengan yang ada di pasaran.

Adapun siang ini sekitar pukul 11.00, tujuh mobil berbendera KNMI dilepas dari Sekretariat KNMI di Jalan Tebet Utara III menuju Surabaya. Ketujuh mobil tersebut sudah berbahan bakar singkong dengan persentase kandungan etanol dari 25 hingga 100 persen.

Perjalanan ini selain ditujukan untuk mengetes kemampuan Biopremium tersebut pada perjalanan jarak jauh, juga untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang sumber daya alternatif ini.

Anak Indonesia Pun Punya Ide Besar

etiap kali pulang dari bepergian seusai liburan, akuarium Sayyidathu Thifal Atqiyya (16) selalu kotor dan terkadang ikannya mati karena tak terurus. Itu pula yang dialami Zuraidah Hanifah (15).

Setelah berpikir panjang mencari solusi, kedua siswi sekolah-rumah (homeschooling) Madrasah Techno Natura, Depok, itu akhirnya membuat simulasi robot ekosistem yang bisa mengatur kelembaban udara, daratan, dan temperatur air di akuarium.

”Oleh karena itu, ia kami namakan robot ekosistem atau Eco-Bot. Ide awalnya sederhana, ya, bermula dari masalah akuarium itu. Kami kemudian mencari cara gimana biar akuarium enggak kotor lagi kalau ditinggal pergi,” kata Thifal, siswa sekolah-rumah yang kini duduk di bangku sekolah setara kelas II SMA itu, sambil tersenyum.

Meski tak persis sama, Leuan Andalver Noble dan Habib Adib Wahono—keduanya juga siswa sekolah-rumah Techno Natura—memiliki pengalaman relatif serupa dengan masalah yang dihadapi Thifal dan Zuraidah. Lantaran setiap kali hendak memakai teleskop di sekolah harus bergantian dengan teman lain, Leuan dan Adib kemudian berpikir untuk membuat teleskop robotik (T-Bot).

”Maklum, teleskop milik sekolah mereka terbatas,” kata Leuan Andalver.

Guna mengatasi keterbatasan itu, mereka lalu membuat teleskop robot yang dihubungkan dengan laptop. Dengan begitu, para siswa tidak perlu saling berebut atau harus bergantian mengintip obyek melalui lubang teleskop. Dengan T-Bot yang mereka buat hanya dalam waktu dua minggu tersebut, para siswa akhirnya bisa sama-sama melihat hasil ”bidikan” teleskop yang ”dipancarkan” melalui layar laptop. Meski belum sempurna, gerakannya masih relatif kasar, satu langkah besar sudah mereka tancapkan.

Impian Eco-Bot

Thifal dan Zuraidah memakai media terarium (biosfer buatan paling alami karena fungsi biologis yang terjadi mirip dengan di alam) untuk menyelesaikan masalah perawatan akuarium. Terciptalah miniatur ekosistem tertentu, seperti ekosistem danau dan sungai lengkap dengan daratannya.

”Kami atur temperatur atau kelembaban udara, daratan, dan volume air dengan robot yang dipasangi sensor,” tutur Zuraidah, yang duduk di bangku sekolah setara kelas III SMP itu.

Semua pengaturan dilakukan otomatis oleh robot dengan bantuan sensor yang dipasang di beberapa titik. Jika, misalnya, kondisi air terlalu panas dan dideteksi sensor, robot akan menghidupkan kipas angin untuk mendinginkan airnya. Sebaliknya, jika udaranya terlalu kering, robot akan mengeluarkan uap air.

Proyek Eco-Bot ini baru tergarap 80 persen dan sempat terbengkalai karena Thifal dan Zuraidah sibuk belajar pelajaran lain. Paling tidak, menurut mereka, perlu waktu 4-6 minggu untuk menyelesaikan Eco-Bot dalam akuarium berukuran 1 meter x 1 meter.

Keduanya yakin, jika menggunakan teknologi yang kian canggih, Eco-Bot yang lebih canggih bisa dibuat untuk kepentingan lebih luas. Taruhlah seperti untuk digunakan di kebun binatang. Bahkan, Thifal punya impian Eco-Bot bisa dipakai untuk mencegah kepunahan ekosistem atau bencana tanah longsor.

Keempat siswa Techno Natura itu berkesempatan memamerkan proyek robot mereka bersama delapan siswa dari dua SMA di Jakarta (SMA Negeri 28 dan SMA Labschool) ketika berbincang santai dan akrab dengan 12 siswa di California, Los Angeles, AS, melalui digital video conference (DVC) dengan jaringan satelit, akhir April lalu, di Kedutaan Besar AS, Jakarta.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan Departemen Pendidikan Amerika Serikat dan Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) itu, para siswa bertukar informasi dan pengalaman menggarap proyek robotik hingga ngobrol hal-hal ringan, seperti makanan favorit dan hobi masing-masing.

Kegiatan DVC ini, kata Direktur Komunikasi Strategis dan Direktur Bidang Pendidikan Pusat Penelitian Penerbangan Dryden milik NASA John R O’Shea, termasuk langkah awal untuk mengeksplorasi peluang kerja sama AS-Indonesia melalui bidang sains dan teknologi. ”Semoga kita bisa kontak terus untuk menindaklanjuti kemungkinan melakukan proyek robotik bersama,” ujarnya.

Bagi David E Alexander, Koordinator NASA Digital Learning Network untuk Pusat Penelitian Penerbangan Dryden-NASA, berbagi pengalaman antarsiswa penting untuk membuka kesempatan dan wawasan agar siswa termotivasi mewujudkan impiannya melalui sains dan teknologi. ”Pesan NASA untuk anak-anak, salurkan bakat dan potensi yang ada dan bekerja keraslah. Hanya itu satu-satunya cara mewujudkan impian,” ujarnya.

Minggu, 23 Mei 2010

Asal Usul Danau Toba

Di Sumatera Utara terdapat danau yang sangat besar dan ditengah-tengah danau tersebut terdapat sebuah pulau. Danau itu bernama Danau Toba sedangkan pulau ditengahnya dinamakan Pulau Samosir. Konon danau tersebut berasal dari kutukan dewa.

Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. “Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar,” gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.

Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. “Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku.” Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. “Bermimpikah aku?,” gumam petani.

“Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata,” kata gadis itu. “Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu,” kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.

Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. “Dia mungkin bidadari yang turun dari langit,” gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. “Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! ” kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.

Setahun kemudian, kebahagiaan Petani dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.

Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. “Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!” kata Petani kepada istrinya. “Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik,” puji Puteri kepada suaminya.

Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. “Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !,” umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu.

Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.