Rabu, 07 April 2010

Hisup,Semangat,Perjuangan

Ketika dalam perjalanan pulang setelah mengikuti kegiatan rutin, di samping kiri aku melihat seorang bapak mengendarai sepeda motor dengan gerobak disampingnya. Nampaknya dia sudah selesai berjualan dan hendak pulang.

Awalnya, aku tidak peduli….sampai aku melihat sesuatu yang menurutku ganjil.

Oh Tuhan…Kakinya tidak menapak pada “pancatan” (aku ga tahu apa namanya) sepeda motor. Kakinya hanya menggantung kecil ….kira2 hanya berjarak 40cm dr pangkal pahanya. Diujung kaki itu, dikenakan sebuah sepatu yg bagus..bersih…dan arah sepatu itu terbalik…ujung jari yg seharusnya ke depan…ini justru ke belakang.

Sejenak aku merasa miris. Aku kagum dengan semangat bapak itu. Walau keadaannya seperti itu, dia tetap semangat bekerja. Dia tidak meminta-minta. Dia tidak berpakaian kusut supaya dikasihani, tp justru berpakaian rapi dan bersepatu. Dan dia bekerja sampai semalam ini (pkl 21.30)

Aku terus menatap bapak itu sampai hilang dr pandanganku….

Aku merenung. Adakah aku lebih semangat dr bapak itu? Aku lebih sempurna secara fisik. Lebih banyak hal yg bisa aku lakukan. Tapi sampai seberapa mampu aku mengolah segala yang aku miliki. Sering kali aku memoles diri supaya dikasihani…menempatkan diri sebagai sosok yang menderita..memiliki persoalan hidup terberat…memasang muka masam…dan putus asa untuk berusaha.

Tapi…seorang bapak yang tidak kukenal …malam ini telah mengajar aku … bahwa apapun keadaan diri kita, jgn kita berputus asa. Semua ada jalan…asal kita mau berusaha. Teruslah bersemangat.. Tampilah sebagai orang yang pantas dihargai..bukan dikasihani.

NIlai Diri Kita

Pada suatu ketika, di sebuah taman kecil ada seorang kakek. Di dekat kaket tersebut terdapat beberapa anak yang sedang asyik bermain pasir, membentuk lingkaran. Kakek itu lalu menghampiri mereka, dan berkata:

“Siapa diantara kalian yang mau uang Rp. 50.000!!” Semua anak itu terhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan sambil memasang muka manis penuh senyum dan harap. Kakek lalu berkata, “Kakek akan memberikan uang ini, setelah kalian semua melihat ini dulu.”

Kakek tersebut lalu meremas-remas uang itu hingga lusuh. Di remasnya terus hingga beberapa saat. Ia lalu kembali bertanya “Siapa yang masih mau dengan uang ini lusuh ini?” Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan.

“Tapi,, kalau kakek injak bagaimana? “. Lalu, kakek itu menjatuhkan uang itu ke pasir dan menginjaknya dengan sepatu. Di pijak dan di tekannya dengan keras uang itu hingga kotor. Beberapa saat, Ia lalu mengambil kembali uang itu. Dan kakek kembali bertanya: “Siapa yang masih mau uang ini?”

Tetap saja. Anak-anak itu mengacungkan jari mereka. Bahkan hingga mengundang perhatian setiap orang. Kini hampir semua yang ada di taman itu mengacungkan tangan.

cerita diatas sangatlah sederhana. Namun kita dapat belajar sesuatu yang sangat berharga dari cerita itu. Apapun yang dilakukan oleh si Kakek, semua anak akan tetap menginginkan uang itu, Kenapa? karena tindakan kakek itu tak akan mengurangi nilai dari uang yang di hadiahkan. Uang itu tetap berharga Rp. 50.000

seringkali, dalam hidup ini, kita merasa lusuh, kotor, tertekan, tidak berarti, terinjak, tak kuasa atas apa yang terjadi pada sekeliling kita, atas segala keputusan yang telah kita ambil, kita merasa rapuh. Kita juga kerap mengeluh atas semua ujian yang di berikan-Nya. Kita seringkali merasa tak berguna, tak berharga di mata orang lain. Kita merasa di sepelekan, di acuhkan dan tak dipedulikan oleh keluarga, teman, bahkan oleh lingkungan kita.

Namun, percayalah, apapun yang terjadi, atau *bakal terjadi*, kita tak akan pernah kehilangan nilai kita di mata Allah. Bagi-Nya, lusuh, kotor, tertekan, ternoda, selalu ada saat untuk ampunan dan maaf.
Kita tetap tak ternilai di mata Allah.

Nilai dari diri kita, tidak timbul dari apa yang kita sandang, atau dari apa yang kita dapat. Nilai diri kita, akan dinilai dari akhlak dan perangai kita. Tingkah laku kita. seberapapun kita diinjak oleh ketidak adilan, kita akan tetap diperebutkan, kalau kita tetap konsisten menjaga sikap kita.
Sahabat, akhlak ialah bunga kehidupan kita. Merupakan seberapa bernilainya manusia. Dengan akhlak, rasa sayang dan senang akan selalu mengikuti kita, dan merupakan modal hidup.
Orang yang tidak mempunyai akhlak, meskipun ia berharta, tidak ada nilainya. Meskipun dia cantik, tapi jika sikapnya buruk dan tiada berakhlak, maka kecantikannya tiada berguna baginya. Begitu pula dengan orang yang berpangkat tinggi, tanpa akhlak, dia menjadi orang yang dibenci.

Kamis, 04 Maret 2010

Macam, Jenis Serta Pengertian Ekspansi Bisnis - Merger, Akuisisi, Hostile Take Over dan Leverage Buyout

Perluasan atau expansi bisnis diperlukan oleh suatu perusahaan untuk mencapai efisiensi, menjadi lebih kompetitif, serta untuk meningkatkan keuntungan atau profit perusahaan. Ekspansi bisnis dapat dilakukan dalam beberapa metode, yakni :

1. Merger Atau Penggabungan
Merger adalah penggabungan dari dua atau lebih perusahaan menjadi satu kesatuan yang terpadu. Perusahaan yang dominan dibanding dengan perusahaan yang lain akan tetap mempertahankan identitasnya, sedangkan yang lemah akan mengaburkan identitas yang dimilikinya. jenis-jenis merger :

a. Merger Vertikal
Perusahaan masih dalam satu industri tetapi beda level atau tingkat operasional. Contoh : Restoran cepat saji menggabungkan diri dengan perusahaan peternakan ayam.

b. Merger Horisontal
Perusahaan dalam satu industri membeli perusahaan di level operasi yang sama. Contoh : pabrik komputer gabung dengan pabrik komputer.

c. Merger Konglomerasi
Tidak ada hubungan industri pada perusahaan yang diakuisisi. Bertujuan untuk meningkatkan profit perusahaan dari berbagai sumber atau unit bisnis. Contoh : perusahaan pengobatan alternatif bergabung dengan perusahaan operator telepon seluler nirkabel.

2. Akuisisi
Akuisisi adalah pembelian suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau oleh kelompok investor. Akuisisi sering digunakan untuk menjaga ketersediaan pasokan bahan baku atau jaminan produk akan diserap oleh pasar. Contoh : Aqua diakuisisi oleh Danone, Pizza Hut oleh Coca-Cola, dan lain-lain.

3. Hostile Take Over atau Pengambil Alihan Secara Paksa
Hostile take over adalah suatu tindakan akuisisi yang dilakukan secara paksa yang biasanya dilakukan dengan cara membuka penawaran atas saham perusahaan yang ingin dikuasai di pasar modal dengan harga di atas harga pasar. Pengambilalihan secara paksa biasanya diikuti oleh pemecatan karyawan dan manajer untuk diganti orang baru untuk melakukan efisiensi pada operasional perusahaan.

4. Leverage Buyout
Leverage buy out adalah teknik pengusaan perusahaan dengan metode pinjaman atau utang yang digunakan pihak manajemen untuk membeli perusahaan lain. Terkadang suatu perusahaan target dapat dimiliki tanpa modal awal yang besar.

Selasa, 15 Desember 2009

Aku Cinta Indonesia

Aku cinta Indonesia
Aku cinta Indonesia, sampai mati akan tetap cinta ... meskipun ia dihancurkan ... meskipun ia hancur. Sementara aku berada di tanah ... Aku akan tetap mengasihi Indonesia.

Ibu bumi sekarang sangat sedih, apalagi sekarang musim hujan ... air mata air kami lebih banyak air mata. Apakah kita tidak merasa kasihan padanya? Ibu pertiwi meratapi anak-anaknya tidak lagi akan menghargai itu, juga akan menghargai anak-anak yang sebelumnya telah berjuang untuk hak-hak mereka menuju kemerdekaan, sehingga anak-anak mereka masih muda tetap dapat menikmati hak-hak mereka secara bebas.

Aku sangat kasihan ibu pertiwiku tercinta. Sekarang para penyerbu mulai lagi menggerogoti negeri kita, mencuri semua kekayaan negara kita .... Ibu pertiwi menjerit sangat keras melampiaskan kesedihannya terjadi. Aku sangat menyesal. Tapi apa yang bisa saya lakukan? Apa yang dapat saya lakukan adalah aku berusaha keras untuk melakukannya.

Sampah pada tempatnya, merawat bunga-bunga dan pohon-pohon di taman, memiliki peran sebagai pelaku di daerah kesenian tradisional untuk menjaga kekayaan budaya negara kita, berjalan kaki untuk menghemat minyak dalam perut bumi ibu bumi, putar mati listrik ketika tidak diperlukan, belajar keras agar suatu hari nanti aku dapat membuat ibu pertiwi tersenyum.

Tapi jika hanya aku dan segelintir orang yang melakukannya apakah cukup?

Jika aku hanya membuang sampah saya hanya tidak egois, jadi tidak ingin membuang sampah lain di sampah orang lain? Tapi aku tidak punya kekuatan sebanyak itu untuk membuang semua sampah di buang milyaran putra dan putri ibu pertiwi di negeri ini, juga orang-orang yang juga peduli ....

Jika aku hanya merawat bunga-bunga dan pepohonan di kebunku sendiri apakah cukup? Sementara di luar sana juga beberapa orang yang berlaku lebih daripada aku, tapi di sisi lain ada orang-orang jadi bagaimana bisa menebang pohon sesuka hati? Apa yang tidak mereka butuhkan untuk bernapas. Pohon sumber oksigen bagi kita, jika tidak ada pohon untuk napas untuk memakai? Bukankah kalau kita tidak bernapas beberapa menit hanya untuk mati? Mau pakai apa napas pasokan oksigen ketika alam atau buatan manusia telah habis?

Jika aku pergi untuk melestarikan budaya kita, sementara saudara yang lain melestarikan budaya negara-negara lain, akan habis kekayaan budaya kita kan? Akan punah seperti badak bercula satu di ujung barat pulau Jawa.

Jadi apa yang harus dilakukan, saya tidak punya kekuatan untuk itu untuk mengundang orang untuk melakukan hal yang sama. Saya juga tidak punya banyak keberanian untuk memanggil saudara-saudaraku semua, saya juga tidak memiliki hak untuk mengubah ini. Aku bertanya kepada Tuhan selalu ... tetapi TUHAN akan berubah HANYA SATU NEGARA MEREKA INGINKAN JIKA mengubah negara sendiri.

Pasti salah satu, tidak bisa saya sendirian! Jadi, hai saudara telah meninggalkan bumi, MEMBUAT IBU PERTIWI KITA TERSENYUM KEMBALI ....

Sabtu, 21 November 2009

I love Indonesia

I love Indonesia, to death will remain in love ... though he destroyed ... although he was shattered. While I was in the land of ... I would still love Indonesia.

Mother earth now was really sad, especially now that the rainy season ... tears of our motherland more tears. Do we not feel sorry for him? Mother earth mourn his children were no longer going to appreciate it, nor will appreciate the children who previously had been fighting for their rights to independence, so that their children are young can still enjoy their rights freely.

I'm very sorry for pertiwiku beloved mother. Now the invaders began again undermine our country, stealing all the wealth of our country .... Motherland scream louder desperately vent his grief to occur. I was so sorry. But what can I do? What can I do is I try so hard to do.

Garbage in place, caring for the flowers and trees in the garden, had a role as a principal in the county of traditional arts to maintain the rich culture of our country, on foot to save oil in the bowels of the earth mother earth, turn off electricity when not needed, learn to hard so that someday I can make the motherland a smile.

But if only I and a handful of people who do it is it enough?

If I just throw my trash just does not selfish, so do not want to throw other trash in the waste of others? But I do not have that much power to dispose of all garbage in the waste of billions of sons and daughters of the motherland in this country, are also those people who also care ....

If I just take care of the flowers and trees in my own garden is it enough? While out there are also some people who apply more than me, but on the other hand there are people so how could cut down trees at will? What they do not need to breathe. Tree source of oxygen for us, if there is no tree to breath to wear? Is not if we do not breathe a few minutes just to die? Want to wear what a breath of oxygen supply when natural or man-made had expired?

If I go to preserve our culture, while another brother preserve the culture of other countries, wealth will be exhausted our culture right? Will become extinct like the one-horned rhinos at the western tip of Java island.

So what to do, I do not have the strength for it to invite people to do the same. I also do not have that much courage to call my brothers all, I also do not have the right to change this. I asked the Lord always ... but the LORD will change ONLY ONE OF THE STATE IF THEY WANT change his own state.

Must be one of, can not I alone! So, O brother has left earth, PERTIWI WE MAKE MOM SMILE AGAIN ....

Kamis, 05 November 2009

Fear of the dark

Like many children, when I was young I hated the darkness. I hated everything about it. I loved being outside during the bright sunshine of the day to play and discover new things with friends, but you couldn't get me to take a walk in the darkness of night to save my life. I loved playing with my toys and siblings in the basement, but you couldn't get me to be the first one to enter the darkness and turn on the lights. I simply hated the darkness. It scared me more than anything else

I think the biggest thing that bothered me about the darkness was the fact that it represented the unfamiliar and the unknown to me. In the sunlight of day I could see all around me. I could walk and run and explore while seeing all there was to see. Darkness has a way of hiding the potential dangers and scary things in life, and I for one didn't like it.

Does anyone else relate to my childhood plight? Do any other adults remember being afraid in darkness? After having four children of my own, I have learned that being afraid of darkness is quite common among children. They do not like the unknown of darkness and very literally, they do not like being hindered from seeing what is around them. Of course, as I have grown up, my fear of darkness has subsided drastically as I have learned that the same things I can see in the light are still there when it turns to darkness. I have realized that nothing extra is out to haunt me in darkness.

I have intentionally been trying to help my children overcome their fear of darkness. We have been taking short walks as a family as darkness begins to settle in at the end of the day. They are fine as long as we are talking and as long as they can grab a hand with someone else. There is something profoundly connected between the fear of darkness and the fear of being alone I have realized. So I am attempting to break their fear of darkness by reinforcing that they are not alone. Having my children share bedrooms with each other has also greatly helped them in the process of overcoming their fears of darkness. With two people in a room nothing is as scary and usually one will stand up and be strong in the face of fear.

I write all this to say simply that life is full of things to be afraid of. It is our choice, however, how we choose to let things like darkness or lonliness affect us. We can be overcome or we can learn to overcome our fears. I'd suggest that life is far too short to spend it in fear of darkness or any other thing.

Fear of the dark